Sepuluh hari bersama dengan 17 guru-guru BK yang hebat dalam PLPG Tahap 1 Rayon Uhamka adalah hari-hari dengan pengalaman yang menyenangkan.
Berangkat bersama ibu Ratna Desniningsih dari SMA KOSGORO yang jadi teman pertama saya dalam PLPG ini.
Cerita mengenai PLPG yang aku dengar dari teman-teman yang sudah melaksanakan sebelum tahap ini sempat membuatku bingung dan agak ciut. Belajar di kelas selama sejak pagi hingga petang, dan mengerjakan tugas pada malam harinya, akan dilakukan selama sepuluh hari masa PLPG. Belum lagi pretest dan postest yang akan dijalani sebelum dan sesudah PLPG. Ditambah lagi dengan banyaknya perangkat yang disarankan untuk dibawa, lengkap dengan media pembelajaran dan semua persiapannya termasuk membawa buku referensi, printer dan ATK lengkap. Diakhiri dilanjutkan dengan Ujian Nasional yang menjadi tahap akhir ujian PLPG dan menentukan berhak tidaknya kami mendapatkan sertifikat sebagai guru yang profesional. Aku berpikir sebanyak apa pekerjaan yang harus kami lakukan setiap harinya. Padahal PLPG tahun ini saja sudah diawali dengan masa prakondisi, dimana kami sudah dibagi dalam kelompok-kelompok kecil berisi sepuluh orang untuk melaksanakan pembelajaran online didampingi oleh seorang dosen dari UHAMKA yang bertindak sebagai mentor.
Hari pertama datang ke Graha Insan Cita, tempat yang dipilih Universitas Muhammadiyah Hamka (UHAMKA) saya melihat lalu lalang orang dengan koper-koper, printer dan tas-tas besar dan barang lainnya.
Setelah registrasi untuk check in kamar ternyata aku sekamar dengan ibu Nining Mulyaningsih, ibu Dalen Rosmayani, ibu Ledya Syarah Palada dan ibu Endang Sufiyandani. Hal yang membuatku semakin bingung adalah saat aku memasuki kamar, ibu-ibu berempat ini sedang membuka laptop masing-masing. Dan aku langsung berpikir "waduh.. Baru masuk kamar udah buka laptop. Emang langsung ujian gitu???😱." Ternyata kegiatan pertama setelah check in adalah registrasi ulang peserta dan pembukaan. Pada saat registrasi ini kami cek kelengkapan berkas yang sudah disampaikan dari LPMP kepada rayon PLPG caranya, panitia mengecek nama peserta secara dalam data peserta lalu disitu akan tertulis masing-masing peserta harus menyerahkan berkas yang apa. Misalnya aku, harus melengkapi berkas ijasah S1, temanku harus melengkapi berkas form A1, namun ada juga yang diminta semuanya yaitu ijasah, form dan A1. Pembukaan diisi oleh kuliah umum sampai dengan menjelang maghrib dan dilanjutkan dengan istirahat dikamar masing-masing sambil mempersiapkan bahan presentasi untuk hari pertama pembelajaran.
Seperti yang ku ceritakan dalam kegiatan harian kami, bahwa PLPG tahun ini tampa pretest dan postest. Nilai pertama kami adalah nilai hasil pengerjaan soal-soal secara online. Nilai kedua adalah nilai presentasi laporan masa pra kondisi.
Jadwal kami untuk PLPG Tahap 1 tahun 2017 adalah, hari pertama diisi dwngan presentasi pelaporan masa pra kondiai
Hari kedua sampai dengan kelima diisi dengan pemberian materi pembelajaran seputar materi pedagogik dan profesi BK . Hari keennam sampai dengan kedelapan diisi dengan workshop. Hari kesembilan dan kesepuluh ujian praktik bimbingan klasikal dan konseling kelompok. Hari kesepuluh ujian tulis kasus dan hari kesebelas adalah Ujian berbasis komputer.
Pembelajaran dimulai pukul 07.30 sampai dengan pukul 17.30. Hanya satu hari ada sesi pembelajaran dilaksanakan sampai dengan pukul 20.00wib. Sarapan, snack, makan siang dan malam dilakukan dengan jadwal seperti pelatihan pada umumnya dengan menu juga standar pelatihan yaitu, ayam, daging, telur, ikan
*disini aku merasa sedih, karena menu banyaknya ayam dan aku sudah mulai berhenti memakan daging dan telur ayam sejak dua bulan lalu😭. Untungnya ada satu teman yang sedang melaksanakan program ketofastosis dan makannya hanya protein dan lemak.
Kegiatan malam kami belajar dan mengerjakan tugas-tugas. Terutama tigas workshop membuat program BK, dari rasional sampai dengan RPL dan lampiran ditambah rancangan evaluasi layanan klasikal dan contoh evaluasi seluruh kegiatan layanan BK. semua laporan baik tugas individu dan kelompok dicetak dan dijilid.
Aah iya, kelas BK pada PLPG tahap I ini seharusnya terdiri dari 19 orang. Namun satu dari kami mengundurkan diri karena jadwal PLPG berdekatan dengan jadwal melahirkan. Sehingga kelas kami jadinya terdiri dari 18 orang.
Kami berasal dari 17 sekolah yang berbeda, Kita mulai dari kamar ki ya kenalannya...
Kamar 112, kamarku. Kami sekamar berlima yaitu, Dalen Rosmayani, lulusan BK UNJ dan sekarang menjadi guru BK SMAN 1 Ciseeng, Parung-Bogor. Dalen ini setiap hari bolak balik Cengkareng-Ciseeng. Perjalanan pagi ia tempuh dalam waktu 2 jam, tapi pulangnya ia tempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam. Dalen ini jika akan memberi masukan diawali dengan kalimat "waktu saya pelatihan di P4TK..." satu lagi, Dalen ini hobi travelling dan belanja terutama jika stress... 😆
Teman sekamar yang kedua adalah Nining Mulyaningsih, lulusan psikologi universitas Gunadarma ini mengajar di SMAN 1 Citeureup. Beliau ini yang sedang melakukan program ketofastosis. Ada satu cerita dimalam ketujuh kami pelatihan. Karena kehabisan makanan makan malam, maka kami beli makan diluar dan Bu Nining ini memutuskan makan mie rebus. Katanya kepada penjual mie "Bu, saya pesen mie rebus pake telor dua tapi ngga pake mie ya😅😱😂." Teman selanjutnya adalah Ledya Syarah Palada, guru BK di SMPIT Gema Nurani. Sarah, demikian biasa dipanggil, awalnya terlihat pendiam ternyata hobinya nonton drama korea. Nah teman sekamar yang keempat adalah ibu Endang Sufiyandani, guru BK di SMPN 1 Sukajaya. Bu Endang ini ketika datang pelatihan sedang mengalami gangguan lambung dan memang jadwal makannya harus teratur. Jadi bu Endang ini dipagi, siang dam malam hari biasanya makan duluan daripada kami berempat. Dan terakhir aku sendiri, Indah Intantila mengajar di SMA Bina Insani. Di PLPG saya dipilih jadi ketua kelas. Kadang aku dipanggil teteh, kadang dipanggil bu ketu😅. Tugasku pagi dan sore hari adalah mengambil dan mengembalikan LCD dan absen ke ruangan sekretariat panitia.
Kamar sebelah di ruang 114. Diisi oleh Annisa Shabirina biasa dipanggil "Nissa" dari SMAN 4 Bekasi. Ibu dari dua orang anak ini, sunda pisaaannn.. Maklum ya asalnya sunda dan lulus dari UPI Bandung. yang kedua adalah Ratna Desniningsih atau Ratna, guru BK di SMA Kosgoro Bogor dan hobinya makan bakso. Hari keempat kami PLPG suami bu Ratna membawakan kami mie ayam khangen dan itu adalah makanan cemilan yang menyenangkan😆. Yang ketiga adalah Riska Puspita. Ibu yang dipanggil Riska ini guru BK dr SMAN 1 Leuwiliang ini lulusan UPI bandung. Hobinya tertawa dan nonton drama korea seperti sarah. Dan yang terakhir dikamar sebelahku adalah ibu Rahma Linda Siregar, yang dipanggil Linda dan mengajar di SMPN 14 bogor.
Kamar satu lagi diisi oleh lima orang. Yang pertama Ashri Rahmawati yang dipanggil "Achi". Achi mengajar d SMPN 2 Ciseeng, Achi ini adik kelasku di BK UNJ seperti beberapa yang lain. Achie adalah guru BK yang double job juga dengan menjadi waka kesiswaan. Double job ini membuat Achie sering Galau 😅. Yang selanjutnya adalah Handayani Utami lulusan UM ini menjadi guru BK di SMPN 1 Cileungsi. Ia biasa dipanggil nunik. Beliau guru BK multi talenta. Bagaimana tidak, selain menghadapi 1037 siswa, beliau juga mengajar mata pelajaran lain karena jumlah guru di sekolahnya kurang. Selain keduanya ada juga ibi Diani Yudiwati yang dipanggil Diani. Ibu satu ini sama seperti bu Nunik yaitu lulusan Universitas Negeri Malang dan logatnya jogja bangeeett dan dia mirip tanteku... Hehehhehehe.. Dua terakhir dikamar 115 adalah Ratu Syahida dan Siti Junariah atau yang dipanggil "atu dan tehsi" keduanya mengajar di SMAN CMBBS di Pandeglang sana. Bedanya, Atu berlatar belakang BK sedangkan Tehsi berlatarbelakang psikologi. Atu dengan logat Serangnya dan Tehsi jago psikoanalisis.
Ada juga yang pastinya tidak akan sekamar demgan kami semua yaitu,
Pak Nicolaus Janto Windratmoko lulusan UNY dan mengajar di SMA tarakanita BSD, beliau sekamar dengan bapak-bapak.
Ada juga ibu Eka Sulastri lulusan BK UNINDRA yang mengajar di SMAN 10 Kabupaten Tangerang serta ibu Rizka Ayuningtyas satu lagi adik kelasku yang mengajar di SMAN 1 Tambelang. Keduanya tidak menginap di wisma bersama kami karena menginap di kontrakan rumah warga bersama anaknya yang masih kecil.
Bersama mereka selama sepuluh hari sebelas malam... Rasanya luar biasa. Rutinitas kami hanya kamar-ruang makan-kelas-ruang makan-kamar. Belajar, berinteraksi, dan kelas kami diakhiri dengan katarsis yang pastinya diperlukan oleh seorang guru BK agar maksimal dalam tugasnya.
Komentar