"Kalo aku liat dari komen-komennya Radit di facebooknya Dewa, keliatan banget kalo Radit itu sayang sama Dewa seperti ke adiknya. Tapi Dewanya sering salah paham. " Kalimat itu akhirnya terucap dari bu Cahya mengomentari hubungan pertemanan antara dua orang yang sama-sama ia kenal dengan baik.
Sambil sesekali meneguk teh hijau dihadapanku aku mulai mengomentari kalimat bu Cahya "Aku tahu, bu. Waktu wisuda juga aku kan ngobrol sama Radit. Dari semua obrolan kami, aku bisa lihat kalo Radit itu memperlakukan Dewa kayak adiknya. Cuma memang gaya komunikasi mereka beda. Kalo Radit tuh ngapa-ngapain cepat, sedangkan Dewa kan orangnya harus runut dan pelan-pelan. Radit bilang kok ke aku, bagaimana dia mengajarkan Dewa banyak hal. Dan aku yakin, sekarang saat Dewa jauh dari kita semua, dia akan bisa menilai lebih jernih segala hal yang sudah dia lewati. Dewa juga pasti bisa melihat dengan lebih baik bagaimana semua orang disekelilingnya terutama Radit dan Eka. Bagaimana juga Rendra yang selama ini dia anggap sahabatnya sebenarnya tidak sebaik yang Dewa pikir. Aku pernah kan bu nanya Rendra kenapa dia ngga mau back up pekerjaan Dewa waktu aku ada masalah sama Dewa, dan Rendra jawab itu bukan urusannya toh selama project berjalan Dewa cuma berdua sama aku mengerjakannya. Padahal Dewa bilang, Rendra dan Adli adalah timnya. Coba kalo Dewa tahu, orang yang dia anggap sahabat sebenarnya ngga peduli sama perbaikan dirinya. Satu lagi, aku juga pernah tanya sama Adli waktu dia mengajukan diri jadi vendor yearbook buat tahun ini, aku tanya kenapa dia ngga mau back up Dewa diakhir project kemarin. Adli justru bilang itu bukan urusannya. Dia kan cuma disuruh desain, jadi dia ngga mau tahu. Dewa fail atau ngga itu bukan urusannya. Aku sedih mendengar dua orang yang dekat dengan Dewa ternyata seperti itu. Dan sayangnya Dewa ngga tahu itu, bu." Panjang lebar aku bercerita tentang apa yang aku tahu mengenai orang-orang disekeliling Dewa.
Dari komunikasiku dengan beberapa orang yang terlibat pekerjaan dengan Dewa, aku bisa menilai lebih dalam konflik antara Dewa dengan Radit. Selama ini aku hanya mendengar dari sisi Dewa. Tetapi saat wisuda kemarin aku mendengar dari sisi Radit. Satu cerita dari dua versi. Aku bisa memahami semuanya. Beda pemahaman dan cara komunikasi membuat keruh suasana. Radit yang merasa bahwa ia memperlakukan Dewa seperti adiknya, ia mengajarkan Dewa banyak hal dan kini merasa kehilangan Dewa. Radit yang khawatir Dewa sakit dalam perjalanannya, Radit yang khawatir Dewa ada dalam situasi bahaya. Radit yang hanya sesekali bertanya bagaimana kondisi Dewa. Radit juga sengaja menahan uang Dewa dengan tujuan agar uang tidak habis untuk hal yang tidak bermanfaat, Dewa yang merasa bahwa Ia hanya diperas tenaganya, Rendra yang merasa konflik dengan Radit sangat besar sehingga ia memutuskan memutuskan kerjasama dengan Radit. Adli yang mengaku baru mengenal Dewa dan hanya peduli pada urusan pekerjaannya. Adli yang belakangan menghubungi pihak Radit dan bertanya apakah dapat bekerjasama jika ada event. Adli yang dianggap mengambil beberapa client perusahaan milik Radit. Lalu Eka yang berusaha ada ditengah-tengah mereka semua dan berusaha menjelaskan padaku banyak hal dari sudut pandangnya.()
Komentar