Sambil menatapku lekat Vita berusaha menjelaskan secara singkat bagaimana perasaan Dewa melewati masalah antara aku dan dirinya dalam menyelesaikan project Buku Tahunan Sekolah pada tahun ini. “Perasaan dia dalem banget sama kamu tuh, nanti aku ceritakan semuanya ya. Menurutku dia begitu karena dia tidak pernah menerima perlakuan seperti yang kamu lakukan untuk dia, jadi dia kaget. Traumanya besar sekali. Tapi aku lihat dia memang ada rasa sama kamu tapi dia enggak berani ngakuin itu. Dia enggak berani maju. Dia berusaha nolak perasaannya.” Ujar Vita kepada aku sambil tersenyum penuh arti.
Aku mendengarkan cerita yang hanya sekelumit dari Vita sambil menerka apa yang Dewa ceritakan kepada Vita tentangku. Kali ini aku mencoba untuk mengingat kembali konflik antara aku dan Dewa diakhir pekerjaan kami beberapa pekan sebelum akhirnya Buku Tahunan itu diantar ke sekolah. “Dan dia enggak tahu juga kan kalo aku setengah mati bingung dia kenapa, dan dia enggak tahu juga aku sampe nangis karena kebingungan. Tapi kan sekarang udah terlambat Bun, dia udah enggak ada.” Kataku sembari menghela nafas. Setengah menyesal dan seperti sedang disadarkan dari mimpi.
Seperti mengerti apa yang aku pikirkan dan rasakan, Vita menanggapi dengan cepat kalimatku tadi “Belum terlambat, nanti aku cerita semuanya. Nanti kita ketemu lagi. Intinya satu, perasaan dia sama kamu dalem banget. Dia sekarang cuma butuh waktu aja.”
Bogor, 10 Mei 2017
Sore selepas wisuda
Komentar