Langsung ke konten utama

Kamu di hatinya


"Gue tuh tahu Dewa dari masih bangor. Memang lu enggak nasehatin dia?  Ngapain coba dia touring-touring gitu.  Kerja cape-cape, uang tuh disimpen.  Ini malah buat kaya gituan.  Enggak ada gunanya. Gue tahu deh fisiknya dia.  Enggak akan kuat dia mah touring sampai enam bulan atau setahun.” Ucap Radit sambil memerhatikan keramaian wisudawan yang sedang melakukan sesi pemotretan di area photo booth.

Sambil menemaninya mengatur antrean foto aku berusaha mendengarkan dengan seksama cerita yang Ia ungkapkan dan menjawab hati-hati pertanyaannya yang membuatku sedikit terkejut itu.  "Udah gue nasehatin kok tapi kan touring itu memang mimpinya Dewa.  Jadi kalo menurut gue, biar aja.  Nanti dalam perjalanan dia pasti belajar banyak.  Gue yakin dia bisa, gue yakin dia mampu. Dewa itu orangnya kan gigih, mas.  Mungkin touring nanti pada kenyataannya enggak selama yang dia targetkan, tapi biar aja dulu.  Dia cuma pengen membuktikan bahwa dia bisa melakukan itu.  Kalian sih selalu menganggap dia enggak bisa melakukan ini dan itu.  Gue pastiin sama lu, mas. Dewa tuh bisa melakukan banyak hal.  Dewa cuma butuh dikasih kepercayaan penuh.  Semoga diperjalanan nanti dia selalu sehat, semoga enggak ada masalah, semoga touring ini jadi jalan perbaikan dirinya.  Dewa tuh perlu dukungan besar dari kita semua bukan kritikan apalagi cemoohan. Gue dukung semua keputusan dia untuk hidupnya karena dia sendiri yang paling tahu apa yang terbaik untuk dirinya.

-------

Dia kan memang nyari orang kaya lu. Lu mah kan cuma disimpen dalam hatinya. Sabar ya, sabar sampai dia pulang. Tunggu aja." disela-sela pekerjaannya Radit  tak berhenti membicarakan Dewa sambil tersenyum menggodaku.

Sambil mengernyitkan dahi aku bertanya menanggapi rentetan kalimat yang diucapkan Radit siang itu “Maksud lu orang kaya gue tu apa? Memang gue gimana? Gue tuh enggak melakukan hal besar buat Dewa.  Gue cuma berusaha memahami pola pikirnya dari sudut pandang dia. Gue cuma berusaha memberikan dia kepercayaan penuh walaupun gue tahu dia masih harus banyak belajar dan harus terus gue temenin. Kita semua sayang kan sama Dewa. Lu, gue, temen-temennya. Apalagi kaya lu bilang tadi, lu ngajarin dia dari belom bisa apa-apa sampai kaya sekarang. Lu pasti punya arti besar banget buat dia. Cuma dia tuh kan orang yang enggak pernah mau mengakui sebesar apa arti orang lain buat dia. Semua dia simpen dalam hatinya. Menurut gue ya. Lu sama Dewa tuh cuma butuh duduk sama-sama dan bicara dari hati ke hati. Apa salahnya lu bilang sama dia kalau dia berarti buat lu dan lu memang butuh dia dalam pekerjaan ini”

Sambil terus mengatur flow tamu yang akan melakukan pemotretan di area photo booth aku melanjutkan kalimat yang terpotong-potong, “Kalo dia salah, gue juga bilang kok. Gue enggak selalu membenarkan dia. Tapi memang cara gue ngajarin dia beda sama cara lu. Lu kan ngajarin dia dengan cara cowok. Kalo gue kan cewek. Jadi pasti gue ngajarin dan nemenin dia dengan cara cewek. Dewa tuh cuma perlu disayang. Dia enggak kaya lu yang bisa cepet ini dan itu.  Dia kan perasaannya halus banget. Lu pasti lebih tahu lebih banyak dia daripada gue. Gue mah apa? Baru pas yearbook kenal dia. Yang ngirim dia ke kantor gue siapa?  Lu kan.  Jadi kalo sekarang lu bilang dia nyari orang kaya gue. Lah kan lu yang bikin dia ketemu gue. Jadi lu kan yang bikin dia kaya sekarang” kata aku sambil tertawa.

“Disimpen dihatinya?” Aku hanya melanjutkan kalimat itu dengan senyum simpul, lalu berusaha melanjutkan dengan jawaban yang diplomatis “Kita semua pasti ada dihatinya. Lu,  gue dan semuanya. Kalau kata gue sekarang biar aja Dewa mikir sendiri dulu...  Kita doain yang baik-baik aja."()

Bogor,  10 Mei 2017
On our graduation day

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melayani Sepenuh Hati

Ada banyak sekali hal yang memengaruhi bagaimana guru BK atau konselor sekolah bertindak, dinilai dan memberikan layanan. Sikap pimpinan, pekerjaan mengurus administrasi, sikap rekan sejawat, pandangan yang kadang mengecilkan keberadaan guru BK di sekolah. Namun lepas dari semua hal yang mungkin tidak menyenangkan itu tetap harus diingat dan diperhatikan, yang dihadapi oleh seorang guru BK adalah manusia-manusia yang memiliki perasaan sama seperti dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan "perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan." Siswa yang datang ke sekolah berasal dari berbagai macam latar belakang, ketika pagi atau siang siswa datang mungkin ada yang masih ngantuk , belum sarapan, bete, habis diomelin, ngga dikasi uang jajan, dan banyak lagi alasan yang sering terjadi dan seringkali bagi orang yang tidak ada dalam posisi itu akan menjadi "alesan aja" sehingga sering ketika siswa datang ke sekolah guru akan marah, atau malah ikutan jadi bete, ...

Kenapa jagoan nangis?

Pagi2 tadi berusaha berangkat lebih pagi... Tapi kok sampai sekolah tetap jam 06.40 ya?? Padahal tadi pagi diantar oleh Valentino Rossita...hehehe.. Seharian ngobrol sama siswa tentang cita-cita, sekolah, bekerja dan masih buanyyaaaakkkk lagi.. seru kalo ngobrol sama mereka, selalu ada aja cerita tertawa.. Jam 13.45WIB diumumkan semua siswa SMA Bina Insani dipulangkan, dan semua siswa diminta menjadi supporter pertandingan futsal (Bina Insani VS Tridharma 2) dan hasilnya BI kalah 7-2 Bagiku ngga masalah, yang penting semua jagoan di lapangan futsal sudah berusaha maksimal. Toh dari semua yang ada di sekolah, menurutku mereka lah yang paling capek, paling tertekan, malu dan sebagainya. Tapi sore menjelang pulang ada seseorang yang matanya sembab dan menangis Ketika ditanya "kamu kenapa, jagoan???" bukan sang jagoan yang menjawab tapi temannya, katanya "gimana coba bu, kalo udah kalah malah dipojokkin enak ngga??" Duuuhhh, makin bingung... ada apa sebenar...

Nulis,

Nulis, Sejak kapan saya nulis? Kalo nulis diary sejak SD. Karena papa saya nyiapin diary yang isinya perjalanan hidup saya sejak lahir. Saya juga "dibuat suka baca" oleh mama saya. So, saya akrab dengan buku sejak saya belum dapat membaca secara lancar😅. Saking sukanya saya sama buku, saya pernah punya perpustakaan pribadi dan salah satu cita2 saya adalah punya taman bacaan. Tapi sekarang buku2nya banyak yang sudah saya sumbangkan ke bbrp taman bacaan dan perpustakaan. Lalu, sejak kapan saya suka nulis serius? Yes, setiap tulisan butuh keseriusan, ketelitian dan pengetahuan dalam. Karena sebelum menulis kita harus banyak membaca dan belajar. Saya mulai serius nulis sebetulnya sejak saya masih berprofesi sebagai staf humas di @mitranetra. Yang saya tulis yaaa seputar pekerjaan dan kegiatan bidang humas. Menulisnya pun hanya di blog. Saya semakin serius nulis sejak bergabung dalam Komunitas Menulis Online karena ada tugas dan target ...hehehe. Lalu, saya mendapat ...