18 Juli 2017 tepat 6 tahun saya mengabdikan diri saya menjadi guru di sekolah ini. Saya tidak menyebut "bekerja di sekolah ini" walaupun dalam rutunitas yang saya lakukan, mengabdikan diri menjadi guru adalah pekerjaan yang saya pilih. Bagi saya menjadi guru adalah "investment to heaven". Semua yang saya lakukan dalam keseharian saya sebagai guru mengarahkan pada apa yang saya dapatkan nanti setelah akhir kehidupan saya. Menjadi guru adalah menjadi orang tua bagi peserta didik saya di sekolah dan itu berarti saya bertanggungjawab dunia dan akhirat bagi kebaikan mereka.
Sabtu, Hari pertama saya menerima kunci ruang Bimbingan Konseling berarti saya menerima tanggung jawab membimbing dan mendampingi peserta didik saya menapaki masa depannya. Memasuki ruangan berukuran 5x3meter yang berdebu dengan 2 lemari kayu dipenuhi buku dan berkas serta 1 lemari besi yang menghadap ke pintu masuk membuat saya berpikir keras akan apa yang harus saya lakukan dihari selanjutnya. Belum lagi melihat struktur organisasi BK, papan bimbingan dan catatan permasalahan siswa yang menghiasi dinding ruang kerja yang baru saya tempati seperti memasuki lorong waktu menuju 15 tahun sebelumnya disaat saya pertama kali mengenal istilah2 dalam Bimbingan Konseling. Yes, just like recalling memory to the time when I was a college student.
"Husnah, gw jadi guru BK di SMA Bina Insani. Gw harus ngapain nih sekarang? Gw bingung. Gw kan udah lama ngga dibidang ini kerjanya." Ujar saya dalam pembicaraan lewat telepon dengan salah satu teman kuliah.
"Alhamdulillah, akhirnya lu kembali ke jalan yang lurus. Emang yang udah lu lakuin apa? "
"Gw?? Baru baca tu istilah2 BK sama ngamatin kebutuhan siswa"
"Yaudah, yang lu lakuin udah bener. Program mah nanti berdasarkan analisa kebutuhan. Trus nanti kan ada MGMP. Lu ikut aja, nanti juga pelan2 lu ngerti ko"
9 tahun setelah menyelesaikan pendidikan sarjana dari jurusan Bimbingan Konseling di salah satu Universitas Negeri di Jakarta memang baru hari itu saya bekerja sebagai guru pembimbing. Sejak dibangku kuliah, saya belajar menjadi konselor sebaya di Youth Center PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) DKI Jakarta, sebagai konselor seksualitas remaja. Saya pun mengajar bahasa inggris sebagai guru private atau di lembaga kursus. Lulus dari UNJ, saya menjadi dosen matrikulasi bahasa inggris di STIE SEBI (Syariah and Banking Institute). Setelah kontrak kerja saya selesai sebagai dosen, saya langsung bekerja di yayasan Mitra netra selama 4 tahun. Mulai dari intruktur bahasa inggris bagi tunanetra, editor ebook, dan terakhir staf humas.
Resign dari pekerjaan yang telah mengajarkan banyak tentang berbagi kebahagiaan bagi para difabel, bukan hal yang mudah. Namun dorongan kuat untuk memperbaiki diri adalah alasan utama saya meninggalkan NGO yang telah membesarkan saya.
Saya orang yang tidak harus selalu settle secara finansial dalam menjalani hidup. Resign dari pekerjaan membuat saya harus berpikir keras untuk mendapatkan tempat bekerja baru yang akan membantu saya memperbaiki diri saya. Kegiatan saya setelah resign sangat beragam. Mulai dari mengurus home industri "kagetan" berdua dengan adik saya. Mengajar sebagai guru kelas di Sekolah alam milik pesantren dan terakhir menjadi tentor bahasa inggris di salah satu Bimbel terkenal di kota bogor. Namun setelah semua saya jalani, saya merasa belum menemukan tempat yang pas dengan harapan saya. Maka menerima tawaran teman untuk menjadi guru BK di SMA Bina Insani bukan sekedar berganti pekerjaan tetapi juga membuka kesempatan saya memperbaiki diri terus dan terus.
Bukankah tidak ada kebetulan dalam hidup kita? Tempat-tempat yang kita singgahi, orang-orang yang kita temui, kejadian-kejadian yang kita alami. Semua mengarah pada rahasia Allah dimasa yang akan datang.
Menjadi bagian dr civitas akademika SMA Bina Insani memang tidak pernah terbayangkan oleh saya. Namun mungkin menjadi pengabulan doa dari suara hati yang tanpa sengaja terlontar. Ataukah memang Allah telah gariskan demikian dalam alur cerita hidup saya yang baru saya sadari kemudian? Saat saya duduk dibangku SMP, keluarga kami pindah ke Bogor karena ayah saya dipindahtugaskan ke kota ini. Saya yang sangat mencintai kota kelahiran saya--Tangerang-- setiap bulan selalu pulang ke Tangerang. Perjalanan dari Bogor menuju Tangerang selalu melewati rute Bogor-Parung. Dan sekolah Bina Insani ada di rute tersebut. Suatu siang saat perjalanan kembali ke Bogor, saya melihat sekelompok guru Bina Insani dengan seragam berwarna hijau pupus sedang menunggu kendaraan di depan gang sekolah. Ketika melihat guru2 itu dalam hati saya berkata "enak kali ya kalo ngajar di situ" Saya tidak pernah membayangkan kata yang terlintas dalam hati saat duduk dibangku SMP akan diaminkan oleh para malaikat dan Allah kabulkan saat usia saya menginjak 33 tahun. Saya orang yang percaya akan kekuatan doa, tetapi saat doa-doa saya dikabulkan semua tetap menjadi kejutan yang selalu menyenangkan.
Menjadi guru BK atau guru pembimbing bukanlah cita-cita saya walaupun sejak kecil saya dekat dengan dunia pendidikan.
"Indah ga mau jd guru BK, ma. Kerjaannya banyak banget."
Menjadi guru BK bukan sekedar mendengarkan cerita atau memberi nasehat. Sebenarnya menjadi guru BK adalah membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan merencanakan masa depannya.
Dua tahun pertama saya menjadi guru BK di SMA Bina Insani adalah tahun yang penuh pembelajaran. Mulai dari penyesuaian sistem kerja di sekolah, hubungan pertemanan hingga penyesuaian pribadi saya dengan pola kerja saya sebagai profesional.
Tahun ketiga hingga kini , saya berusaha selalu berusaha memperbaiki profesionalisme saya. Guru BK bukan guru mata pelajaran yang memberikan materi dan memberikan nilai yang dituliskan dalam buku laporan pendidikan siswa. Saya adalah guru yang bertugas membimbing dan membentuk karakter dengan cara yang khas. Ini yang menjadi penekanan saya dalam menjalankan tugas. Tidak hanya mendengarkan cerita lalu menasehati, karena fungsi bimbingan konseling bukan sebagai penasehat. Saya membantu orang lain menyelesaikan masalahnya dengan cara masing-masing dari sudut pandang mereka sendiri.
Dan ditahun keenam ini, saya berharap banyak perbaikan yang dapat saya lakukan terhadap diri sendiri, yang akan berimbas pada perbaikan saya dalam membantu siswa menemukan dirinya.
Selama empat tahun pertama, saat siswa mengatakan bahwa mereka mau jadi ini dan yang sesuai passionnya saya selalu berpikir. "Apa iya passion saya disini?" Namun, semakin dalam saya menyelami dunia dan pekerjaan ini saya bersyukur Allah menempatkan saya pada posisi ini. Ternyata begini cara Allah mengabulkan doa saya. Saya yang ingin bekerja dengan cara berhubungan dengan banyak orang setiap hari. Bagi saya, bekerja berarti "ngobrol." Membantu orang lain menyelesaikan masalahnya dengan cara masuk kedalam dunianya. Tetapi bukan berarti saya orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Membantu orang lain membuat keputusan dan menentukan arah masa depannya.
Seorang teman pernah dengan sengaja bertanya "Bu Indah betah ya kerja disini? ngga pengen resign?"
Saya ingat lagi alasan saya resign dari pekerjaan saya sebelumnya yang sudah membesarkan dan mengajarkan saya banyak hal. Lingkungan kerja dimana pun sama. Tinggal bagaimana kita menjalani dan menghadapinya.
Six years and still counting...
Disini Allah mengajarkan saya bahwa passion tidak selamanya sesuatu yang saya yakini. Karena passion diri kadang tidak kita sadari. Dan Allah sudah mengabulkan doa saya untuk bisa memperbaiki diri dengan menempatkan saya disini, di lingkungan ini.
Disini saya belajar memahami diri saya lebih dari sebelumnya lewat semua orang yang saya temui.
Disini saya berusaha membantu orang lain menemukan dan mengaktualisasikan dirinya.
Disini saya belajar bertemu dengan orang baru setiap waktu....
Disini, dan masih ada tahun-tahun selanjutnya saya disini... (Wallahualam)
Tahun ketiga hingga kini , saya berusaha selalu berusaha memperbaiki profesionalisme saya. Guru BK bukan guru mata pelajaran yang memberikan materi dan memberikan nilai yang dituliskan dalam buku laporan pendidikan siswa. Saya adalah guru yang bertugas membimbing dan membentuk karakter dengan cara yang khas. Ini yang menjadi penekanan saya dalam menjalankan tugas. Tidak hanya mendengarkan cerita lalu menasehati, karena fungsi bimbingan konseling bukan sebagai penasehat. Saya membantu orang lain menyelesaikan masalahnya dengan cara masing-masing dari sudut pandang mereka sendiri.
Dan ditahun keenam ini, saya berharap banyak perbaikan yang dapat saya lakukan terhadap diri sendiri, yang akan berimbas pada perbaikan saya dalam membantu siswa menemukan dirinya.
Selama empat tahun pertama, saat siswa mengatakan bahwa mereka mau jadi ini dan yang sesuai passionnya saya selalu berpikir. "Apa iya passion saya disini?" Namun, semakin dalam saya menyelami dunia dan pekerjaan ini saya bersyukur Allah menempatkan saya pada posisi ini. Ternyata begini cara Allah mengabulkan doa saya. Saya yang ingin bekerja dengan cara berhubungan dengan banyak orang setiap hari. Bagi saya, bekerja berarti "ngobrol." Membantu orang lain menyelesaikan masalahnya dengan cara masuk kedalam dunianya. Tetapi bukan berarti saya orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Membantu orang lain membuat keputusan dan menentukan arah masa depannya.
Seorang teman pernah dengan sengaja bertanya "Bu Indah betah ya kerja disini? ngga pengen resign?"
Saya ingat lagi alasan saya resign dari pekerjaan saya sebelumnya yang sudah membesarkan dan mengajarkan saya banyak hal. Lingkungan kerja dimana pun sama. Tinggal bagaimana kita menjalani dan menghadapinya.
Six years and still counting...
Disini Allah mengajarkan saya bahwa passion tidak selamanya sesuatu yang saya yakini. Karena passion diri kadang tidak kita sadari. Dan Allah sudah mengabulkan doa saya untuk bisa memperbaiki diri dengan menempatkan saya disini, di lingkungan ini.
Disini saya belajar memahami diri saya lebih dari sebelumnya lewat semua orang yang saya temui.
Disini saya berusaha membantu orang lain menemukan dan mengaktualisasikan dirinya.
Disini saya belajar bertemu dengan orang baru setiap waktu....
Disini, dan masih ada tahun-tahun selanjutnya saya disini... (Wallahualam)

Komentar