Buku yang terakhir saya baca sampai tuntas berjudul "Ragu, Istikharah Dong"
Seringkali kita tidak melibatkan Allah SWT dalam keputusan-keputusan yang kita ambil dalam hidup. Padahal dalam hadits yg shohih dikatakan bahwa istikharahlah walaupun hanya mencari sandal yg hilang.
Saya merasa bahwa setiap doa saya selalu Allah kabulkan disaat yang tepat. Bahkan keinginan yang sesekali terlintas dihati seringkali dikabulkan disaat saya sudah lupa akan keinginan itu. Oleh karena itu saya tidak pernah ragu memutuskan sesuatu dengan cara berdoa memohon petunjuk yang terbaik, dan mengikuti alur yang Allah beri setelahnya.
Sebetulnya melakukan sholat istikhoroh bukan kali pertama. Sejak dulu ibu saya selalu mengajarkan saya untuk melakukannya setiap kali saya akan memutuskan sesuatu.
Biasanya orang melakukannya jika berkaitan dengan jodoh. Ya kan...
Tapi saya mengawali sholat istikhoroh saya dulu saat saya sedang memilih melanjutkan sekolah kemana. Dan sampai saat ini saya berusaha melanjutkan kebiasaan itu setiap saya akan membuat suatu keputusan.
Dulu saya berpikir setelah melakukan sholat istikhoroh saya akan mendapat firasat brrupa mimpi atau pertanda lain. Tetapi ternyata tidak selalu demikian. Dalam buku lain yang saya baca, melakukan sholat istikhoroh berarti apa pun yang kita putuskan kita menyertakan ridho Allah dalam mengambil keputusan itu.
Nah, lalu kenapa saya tertarik membaca buku itu sekarang?
Alasan pertama,
Saya sedang belajar selalu melibatkan Allah dalam semua keputusan yang saya ambil. Baik yang masih membuat saya bingung atau keputusan yang sudah saya tetapkan namun saya masih ragu apakah itu terbaik atau tidak.
Alasan kedua,
Karena selalu saja ada hal yang sedang saya hadapi dan saya merasa tidak mampu menyelesaikan sendiri dengan logika dan pemikiran saya sebagai manusia.
Alasan ketiga,
Karena saya sedang belajar mengikuti garis takdir yang Allah buat untuk saya.
Sebulan sebelum membaca buku tersebut saya sedang kebingungan untuk menunggu atau melupakan seseorang. Saya tanya pada diri sendiri tetapi tidak bertemu jawabannya. Lalu saya bicara pada sahabat saya, semuanya menjawab "tunggu ya, sabar" namun saya masih merasa tidak yakin apakah menunggu adalah pilihan yang tepat?
Sejak awal saya berusaha melibatkan Allah dalam memutuskan hal ini. Sejak kami terlibat dalam pekerjaan yang ternyata juga melibatkan juga perasaan. Saya berusaha terus melakukan sholat istikhoroh dan memohon Allah memberikan keputusan terbaik. Sampai dengan saat ini pun masih terus saya lakukan. Saya serahkan semua keputusan itu. Saya ikuti alur yang dibuat olehNya. Percaya pada semua takdirNya. Entah apa yang Allah rancanakan dalam hidup saya. Apa pun itu, saya yakin pasti keputusan itu yang terbaik dari Allah.
Seperti keyakinan saya bahwa Allah akan menjaga dia, menjauhkan dari semua bahaya, dan menjadikannya lebih baik lebih daripada terakhir saya bertemu. ()
Komentar