Apa yang dilakukan remaja adalah hasil dari pembiasaan yang Ia terima dalam keluarganya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya sedih atau merasa diabaikan. Tetapi terlalu memanjakan anak dan memberikan bantuan terus-menerus menjadikan anak tidak mandiri. Dalam beberapa kisah pacaran para siswa, saya mendapati saat mereka putus pacaran ada yang menyayat-nyayat dirinya. Ada juga yang saat diputuskan oleh pacarnya, Ia berjalan kaki ke rumah pacarnya sejauh kurang lebih 5 kilo meter. Ada juga yang pura-pura pingsan. Naah, yang paling kacau ketika siswa saya putus dengan pacarnya dan sang mantan dekat dengan orang lain, orang tuanya langsung datang kepada saya dan menjelek-jelekkan mantan pacar anaknya.
Apa siih yang membuat anak-anak berperilaku demikian? Mereka bukan kebanyakan nonton drama korea atau sinetron apalagi film india. Tapi mereka melakukan semua perilaku tersebut karena tingkat kematangan emosinya masih rendah. Jadi maksudnya, para pemaja ini belum matang cara berpikirnya, belum stabil emosinya. Memang, remaja adalah masa dimana seseorang masih mencari jati diri sehingga masih labil. Tetapi remaja yang melewati semua fase perkembangan dengan benar tidak akan melakukan hal-hal diatas. Dalam pengamatan saya, remaja yang kestabilan emosinya sangat fluktuatif biasanya menerima bantuan yang terus-menerus dalam penyelesaian masalah sejak Ia masih dibawah satu tahun. Contohnya, saat masih bayi setiap kali Ia menangis maka orang tai bergegas akan mendatangi dan menggendongnya. Simple ya dan rasanya ngga ada yang salah dengan yang dilakukan orang tua. Sekarang ke fase selanjutnya. Saat anak sudah masuk usia balita setiap ki memiliki keinginan, dengan serta merta orang tua langsung mengabulkan, alasan yang biasa diungkapkan orang tua "kan kasian bu." Adalagi, saat anak memasuki usia sekolah, anak difasilitasi dengan semua kemudahan atau bahkan saat anak mendapatkan tugas sekolah, orang tua dengan serta merta membantu menyelesaikan atau bahkan turun tangan langsung menyelesaikan tugas tersebut. Yang lain lagi, karena ada pembatu, anak tidak diperkenankan sama sekali membantu pekerjaan rumah tangga seperti belajar mencuci piring untuk anak perempuan. Satu lagi, setiap kali anak menemukan masalah yang harus Ia pecahkan, orang tua langsung membuatkan keputusan apa yang harus dilakukan.
Keliatannya ngga ada yang salah ya...
Tetapi disadari atau tidak, kebiasaan anak menerima semua jenis bantuan membuatnya tidak berusaha keras menuntaskan pekerjaan yang Ia miliki sehingga Ia selalu tergantung pada orang lain. Dan kebiasaan orang tua membuat keputusan-keputusan bahkan untuk hal-hal kecil seperti mau makan apa, mau mengenakan baju yang mana, kalo main didalem rumah aja. Kalo beli baju seperti bagaimana, membuat anak tidak memiliki keterampilan membuat keputusan untuk dirinya sendiri.
Ketika anak ada diusia yang sangat muda semua terlihat wajar. Namun jika terus berlanjut sampai sampai anak menginjak remaja efek yang sering saya temui ketika remaja yaang selalu menerima banyak bantuan orang tua adalah, mereka akan memperlihatkan sifat tergantung pada orang lain. Ia akan memeprlakukan orang lain seperti Ia diperlakukan. Misalnya, jika remaja putri memiliki pacar maka Ia akan sangat manja pada pacarnya, posessive, cemburuan sulit percaya. Ia menginginkan perhatian dari pacarnya sama dengan yang Ia terima dari orang tuanya. Mereka tidak terbiasa mandiri dan tidak memiliki pola hubungan yang sehat.
Sedangkan bagi remaja yang selalu dibantu membuat setiap keputusan atau selalu terlalu diatur oleh orang tua biasanya tidak mampu membuat keputusan untuk menentukan pilihan jurusan kuliah atau membuat keputusan kuliah di universitas mana. Keliatannya ngga masalah ya?
Tapi bayangkan jika ketidakmandirian terus berlangsung sampai Ia menginjak usia dewasa. Apa yang akan terjadi saat remaja ini hidup sendiri.
Orang tua selalu ingin membahagiakan anaknya. Tetapi membiarkan rasa tidak tega terus berkembang dan memfasilitasi anak dengan semua bantuan dan kemudahan bahkan sampai hal terkecil ternyata akan membuat anak memiliki daya juang yang rendah dan selalu tergantung pada orang lain.()
Ada banyak sekali hal yang memengaruhi bagaimana guru BK atau konselor sekolah bertindak, dinilai dan memberikan layanan. Sikap pimpinan, pekerjaan mengurus administrasi, sikap rekan sejawat, pandangan yang kadang mengecilkan keberadaan guru BK di sekolah. Namun lepas dari semua hal yang mungkin tidak menyenangkan itu tetap harus diingat dan diperhatikan, yang dihadapi oleh seorang guru BK adalah manusia-manusia yang memiliki perasaan sama seperti dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan "perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan." Siswa yang datang ke sekolah berasal dari berbagai macam latar belakang, ketika pagi atau siang siswa datang mungkin ada yang masih ngantuk , belum sarapan, bete, habis diomelin, ngga dikasi uang jajan, dan banyak lagi alasan yang sering terjadi dan seringkali bagi orang yang tidak ada dalam posisi itu akan menjadi "alesan aja" sehingga sering ketika siswa datang ke sekolah guru akan marah, atau malah ikutan jadi bete, ...
Komentar