Langsung ke konten utama

Postingan

Satu Doa Terlepas Lagi

Saya selalu percaya bahwa setiap doa pasti Allah kabulkan atau diganti dengan yang lebih baik. Bahkan setiap doa yang tidak sempat terucap dan hanya terlintas didalam hati. Hari ini misalnya.. Menyelesaikan satu artikel pendek untuk bernas.id membuat saya merasa bahwa ada satu lagi doa saya yang terkabul.  Walaupun saya belum tahu,  tulisan tersebut layak posting atau tidak. Tetapi bagi saya pribadi,  hal itu adalah capaian setelah banyak waktu saya berusaha mengalahkan rasa tidak percaya diri pada hasil tulisan saya sendiri. Akhir pekan lalu contoh lain, Ketika diumumkan tulisan saya termasuk tiga tulisan terbaik dalam pelatihan menulis online. Dulu sekali,  membaca adalah kebiasaan yang dibentuk oleh ibu terhadap saya.  Sejak kecil saya selalu dibawakan banyak sekali buku perpustakaan.  Menulis pun menjadi hal yang biasa saya lakukan, seperti yang sudah pernah saya tuliskan sebelumnya. Tetapi selama ini saya merasa tulisan saya tidak layak dibaca ora...

MENULIS UNTUK KATARSIS

Bagi saya menulis bukan sekedar hobi atau kebiasaan yang sudah saya lakukan sejak masih usia belasan. Bukan pula sebagai cara saya untuk mencurahkan isi hati berupa curhatan galau (karena udah bukan masanya juga). Menulis juga bukan hanya menjadi bagian dari kewajiban dalam pekerjaan, dengan menulis laporan kasus. Bukan pula hanya cerita. Menulis bagi saya adalah juga sebagai katarsis.   Apa itu katarsis?  Dalam metode psikologi (psikoterapi) katarsis adalah upaya menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkannya menceritakan semuanya. Yesss.. For me writing also the way to release pain and solve the problem. Semakin matang usia pastinya semakin banyak yang saya pelajari dari kehidupan saya dan orang-orang disekitar saya. Semakin lama Allah memberikan kesempatan saya hidup,  semakin banyak masalah yang saya temui.  Entah dalam komunikasi dengan orang lain,  atau masalah...

Wangi Kamu

Hari ini sejak pagi semua sudut dipenuhi wangi khas tubuhnya.  Wangi yaang selama ini ku kenali dengan sangat baik namun sudah tidak lagi ada disekitarku sejak dia memutuskan pergi. Entah mengapa pagi ini tiba-tiba aku seperti terseret masuk kedalam pusaran lorong waktu dan jatuh tepat dimasa itu.  Masa dimana dia selalu ada disini,  dihadapanku. Bagaimana caraku kembali pada masa ini.  Masa dimana aku harus menghadapi hari dengan segudang kesibukan yang berputar cepat laksana roda kereta yang berjalan pada relnya. Berusaha menghentikan semua ingatan yang berebut keluar dari kotak kenangan yang dengan keterpakasaan kusimpan rapi dengan gudang hati.  Tuhan pasti punya rencana bukan?  Hingga DIA mengembalikan semua ingatan itu tepat setelah aku berdoa agar dia selalu dalam penjagaan-Nya.

April 2017

“ Betul, aku memang jaga jarak sama ibu. Buat saya, yang ibu lakukan sebagai klien tuh nggak wajar. Ibu kirimin saya makan siang, kenapa cuma saya? kan ada tim saya juga. Ibu bisa tanya alamat mereka. ibu juga kirimin kakak saya makanan, Aku sengaja pasang boundary sama ibu. Banyak yang harus aku jaga perasaannya, keluargaku, pasangaku, timku..” jawab  Dewa saat aku tanya mengapa kinerjanya pada project ke kali ini tidak sebaik project yang lain. Aku terhenyak mendengarnya mengatakan hal tersebut. Diam. Aku hanya mendengarkan sambil mengingat apa saja yang sudah aku lakukan hingga membuatnya berkata demikian. Aku terkejut karena tiba-tiba aku mengetahui ia sengaja menjaga jarak denganku. Bukankah belakangan ini kami semakin dekat? Bukankah ia sendiri yang mulai melibatkanku dalam urusan pribadinya, dan ia juga yang melibatkanku semakin jauh dalam kehidupannya? Bukankah selama ini tidak pernah perilaku yang menunjukkan bahwa ia tidak menerima semua bantuan ku? Aku beru...

Tak Bisa (Lagi) Berpura-Pura

"...Memangnya Dewa cerita apa soal aku, bun?” Sambil terus berpikir kira-kira apa yang Dewa bicarakan dengan Vita. Hal sepenting apa yang Dewa ceritakan hingga Vita memutuskan untuk menceritakannya kepada aku, yang menjadi objek cerita Dewa. ----  “Dewa bilang dia akan coba pergi. Dia berharap ketika dia pergi kamu akan mengakui perasaanmu terhadapnya. Mendengar kalimatnya itu, aku bilang pada Dewa  kenapa nggak dia aja yang mengakui perasaannya kepada kamu. Dia menyiksa dirinya dengan cara pergi jauh dengan alasan touring. Aku lihat akhirnya semua yang dia lakukan nggak ada yang terselesaikan, kuliahnya nggak beres, dia juga pergi touring nggak punya tujuan yang pasti mau kemana aja dan seperti apa. Kenapa dia nggak menyelesaikan urusan-urusannya di sini saja dulu. Tapi dia memang butuh jawaban dan mencarinya dengan cara pergi jauh. Jadi ya sudah, aku pikir mungkin itu yang terbaik bagi dia. Aku bilang ke Dewa, keputusan itu ada di tangannya. Tapi dia harus tahu bahwa hati ...

Buat Kamu!

Akhirnya tulisan itu diberi judul "Buat Kamu" Semua yang saya tulis tentang kamu dan buat kamu.  Tentang seseorang yang lumayan membingungkan😉. Tulisan yang beranjak menjadi 75 persen.  Tulisan yang m asih dalam tahap penyelesaian. Tinggal edit dan merapikan kesalahan-kesalahan ketik.  Tulisan ini,  Menggali lagi banyak cerita yang terlewat.  Mengingat lagi banyak kisah.  Memanggil lagi setiap kenangan yang pernah terjadi. Seperti yang pernah saya tuliskan, Saya tidak dapat menilai kamu dari sudut pandang orang lain.  Saya hanya dapat menilai kamu dari sudut pandangmu dan sudut pandang saya sendiri. Layaknya sedang bercermin, kesamaan pola pikir dan banyak sudut pandang....

Lihat Segalanya Lebih Dekat

Kadang, orang yang terlihat tegar sebenarnya menyimpan luka yang sangat dalam. Kadang orang yang terlihat tidak peduli sebenarnya sangat perhatian dengan caranya. Kadang orang yang terlihat berantakan sebenarnya paling rapi menyimpan sesuatu dalam hatinya. Kadang orang yang paling sering tertawa justru menyimpan kesedihan yang membuat dadanya sesak. Kadang orang yang bilang "Aku ngga suka diperhatiin kaya gitu" sebenarnya justru menunggu perhatian yang lebih besar lagi. Kadang orang yang bilang "Aku ngga suka sama perlakuan kamu" sebenarnya menanti diperlakukan lebih baik lagi. Kadang orang yang bilang "Aku emang sengaja jaga jarak" sebenarnya ia ingin lebih didekati. Kadang orang yang bilang "Perlakuan kamu aneh" sebenarnya karena ia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Kadang seseorang pergi jauh untuk mendamaikan hatinya,  memahami dirinya,  menyembuhkan lukanya,  menuntaskan traumanya,  dan menyelesaikan dendamnya. Jangan hanya men...

His mates

"Kalo aku liat dari komen-komennya Radit di facebooknya Dewa,  keliatan banget kalo Radit itu sayang sama Dewa seperti ke adiknya.  Tapi Dewanya sering salah paham. " Kalimat itu akhirnya terucap dari bu Cahya mengomentari hubungan pertemanan antara dua orang yang sama-sama ia kenal dengan baik. Sambil sesekali meneguk teh hijau dihadapanku aku mulai mengomentari kalimat bu Cahya "Aku tahu, bu. Waktu wisuda juga aku kan ngobrol sama Radit.  Dari semua obrolan kami, aku bisa lihat kalo Radit itu memperlakukan Dewa kayak adiknya. Cuma memang gaya komunikasi mereka beda. Kalo Radit tuh ngapa-ngapain cepat,  sedangkan Dewa kan orangnya harus runut dan pelan-pelan.  Radit bilang kok ke aku,  bagaimana dia mengajarkan Dewa banyak hal. Dan aku yakin,  sekarang saat Dewa jauh dari kita semua, dia akan bisa menilai lebih jernih segala hal yang sudah dia lewati. Dewa juga pasti bisa melihat dengan lebih baik bagaimana semua orang disekelilingnya terutama Radit ...

For Ya!

Terus terngiang dalam benakku kalimat Vita bahwa Dewa memutuskan pergi dan ia ingin aku mencarinya.  Aku pernah berusaha menghubunginya namun rasanya percuma.  Aku juga tak pernah lupa bagaimana Dewa mengatakan padaku bahwa ia memang sengaja menjaga jarak karena banyak yang harus ia jaga perasaannya.  Berkali Vita mengatakan padaku bahwa Dewa sengaja melakukan itu agar aku cemburu dan merajuk padanya dan semua yang Dewa lakukan memang sudah ia rencanakan.  Berkali juga aku katakan pada Vita, bahwa saat ini Dewa tidak berusaha menunjukkan bagaimana perasaannya sebenarnya. --- Satu hal yang terkadang aku lupa,  aku tak dapat menilainya menggunakan kacamata orang lain.  Aku juga tak bisa menggunakan sepatu orang lain untuk memahami langkah yang ia ambil.  Aku juga tak dapat memahaminya dengan sudut pandang orang lain.  Aku hanya dapat menilainya dengan kacamataku,  memahami pemikirannya dengan caraku melihat hidup dan harapanku. Aku dapat mema...

Kamu di hatinya

"Gue tuh tahu Dewa dari masih bangor. Memang lu enggak nasehatin dia?  Ngapain coba dia touring-touring gitu.  Kerja cape-cape, uang tuh disimpen.  Ini malah buat kaya gituan.  Enggak ada gunanya. Gue tahu deh fisiknya dia.  Enggak akan kuat dia mah touring sampai enam bulan atau setahun.” Ucap Radit sambil memerhatikan keramaian wisudawan yang sedang melakukan sesi pemotretan di area photo booth. Sambil menemaninya mengatur antrean foto aku berusaha mendengarkan dengan seksama cerita yang Ia ungkapkan dan menjawab hati-hati pertanyaannya yang membuatku sedikit terkejut itu.  "Udah gue nasehatin kok tapi kan touring itu memang mimpinya Dewa.  Jadi kalo menurut gue, biar aja.  Nanti dalam perjalanan dia pasti belajar banyak.  Gue yakin dia bisa, gue yakin dia mampu. Dewa itu orangnya kan gigih, mas.  Mungkin touring nanti pada kenyataannya enggak selama yang dia targetkan, tapi biar aja dulu.  Dia cuma pengen membuktikan bahw...