Langsung ke konten utama

April 2017

Betul, aku memang jaga jarak sama ibu. Buat saya, yang ibu lakukan sebagai klien tuh nggak wajar. Ibu kirimin saya makan siang, kenapa cuma saya? kan ada tim saya juga. Ibu bisa tanya alamat mereka. ibu juga kirimin kakak saya makanan, Aku sengaja pasang boundary sama ibu. Banyak yang harus aku jaga perasaannya, keluargaku, pasangaku, timku..” jawab  Dewa saat aku tanya mengapa kinerjanya pada project ke kali ini tidak sebaik project yang lain.

Aku terhenyak mendengarnya mengatakan hal tersebut. Diam. Aku hanya mendengarkan sambil mengingat apa saja yang sudah aku lakukan hingga membuatnya berkata demikian. Aku terkejut karena tiba-tiba aku mengetahui ia sengaja menjaga jarak denganku. Bukankah belakangan ini kami semakin dekat? Bukankah ia sendiri yang mulai melibatkanku dalam urusan pribadinya, dan ia juga yang melibatkanku semakin jauh dalam kehidupannya? Bukankah selama ini tidak pernah perilaku yang menunjukkan bahwa ia tidak menerima semua bantuan ku? Aku berusaha tenang dan tersenyum layaknya sedang menghadapi seorang klien yang datang untuk melakukan konseling dan mengeluarkan semua keluh kesah perasalahannya. Aku berusaha menutupi semua keterkejutanku. Walaaupun sebenarnya jauh di dalam hati perasaanku tidak dapat aku lukiskan lagi.

Aku berusaha mencerna baik-baik kata demi kata yang ia lontarkan. Ia berbicara tanpa menatapku, pandangannya lurus ke depan seperti sedang berusaha menyusun kata-kata. Ia  berkata dengan suara yang pelan, namun semua kata itu terasa sangat dalam dan menusuk.

Sayup-sayup dari windows media player laptopku masih terputar lagu “in a rush milik Blackstreet”

“That’s sometimes I cry, but I can’t tell you why
why I feel, what I feel inside..

How I try to express what’s been jugglin’ my mind
But still can’t find the words
But I know that something’s got a hold on me...”

Aku terdiam lama setelah ia meninggalkan ruangangku siang itu. Bingung, tiba-tiba aku merasa dadaku sesak dan aku tak dapat berpikir apa pun. Lagu tadi terus mengalun menemani aku yang terus diam dalam kebingungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melayani Sepenuh Hati

Ada banyak sekali hal yang memengaruhi bagaimana guru BK atau konselor sekolah bertindak, dinilai dan memberikan layanan. Sikap pimpinan, pekerjaan mengurus administrasi, sikap rekan sejawat, pandangan yang kadang mengecilkan keberadaan guru BK di sekolah. Namun lepas dari semua hal yang mungkin tidak menyenangkan itu tetap harus diingat dan diperhatikan, yang dihadapi oleh seorang guru BK adalah manusia-manusia yang memiliki perasaan sama seperti dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan "perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan." Siswa yang datang ke sekolah berasal dari berbagai macam latar belakang, ketika pagi atau siang siswa datang mungkin ada yang masih ngantuk , belum sarapan, bete, habis diomelin, ngga dikasi uang jajan, dan banyak lagi alasan yang sering terjadi dan seringkali bagi orang yang tidak ada dalam posisi itu akan menjadi "alesan aja" sehingga sering ketika siswa datang ke sekolah guru akan marah, atau malah ikutan jadi bete, ...

Kenapa jagoan nangis?

Pagi2 tadi berusaha berangkat lebih pagi... Tapi kok sampai sekolah tetap jam 06.40 ya?? Padahal tadi pagi diantar oleh Valentino Rossita...hehehe.. Seharian ngobrol sama siswa tentang cita-cita, sekolah, bekerja dan masih buanyyaaaakkkk lagi.. seru kalo ngobrol sama mereka, selalu ada aja cerita tertawa.. Jam 13.45WIB diumumkan semua siswa SMA Bina Insani dipulangkan, dan semua siswa diminta menjadi supporter pertandingan futsal (Bina Insani VS Tridharma 2) dan hasilnya BI kalah 7-2 Bagiku ngga masalah, yang penting semua jagoan di lapangan futsal sudah berusaha maksimal. Toh dari semua yang ada di sekolah, menurutku mereka lah yang paling capek, paling tertekan, malu dan sebagainya. Tapi sore menjelang pulang ada seseorang yang matanya sembab dan menangis Ketika ditanya "kamu kenapa, jagoan???" bukan sang jagoan yang menjawab tapi temannya, katanya "gimana coba bu, kalo udah kalah malah dipojokkin enak ngga??" Duuuhhh, makin bingung... ada apa sebenar...

Nulis,

Nulis, Sejak kapan saya nulis? Kalo nulis diary sejak SD. Karena papa saya nyiapin diary yang isinya perjalanan hidup saya sejak lahir. Saya juga "dibuat suka baca" oleh mama saya. So, saya akrab dengan buku sejak saya belum dapat membaca secara lancar😅. Saking sukanya saya sama buku, saya pernah punya perpustakaan pribadi dan salah satu cita2 saya adalah punya taman bacaan. Tapi sekarang buku2nya banyak yang sudah saya sumbangkan ke bbrp taman bacaan dan perpustakaan. Lalu, sejak kapan saya suka nulis serius? Yes, setiap tulisan butuh keseriusan, ketelitian dan pengetahuan dalam. Karena sebelum menulis kita harus banyak membaca dan belajar. Saya mulai serius nulis sebetulnya sejak saya masih berprofesi sebagai staf humas di @mitranetra. Yang saya tulis yaaa seputar pekerjaan dan kegiatan bidang humas. Menulisnya pun hanya di blog. Saya semakin serius nulis sejak bergabung dalam Komunitas Menulis Online karena ada tugas dan target ...hehehe. Lalu, saya mendapat ...