Langsung ke konten utama

Postingan

From Me to You

… F. 012016 Mengenalmu adalah suatu ketidaksengajaan. Terlibat dalam pekerjaan yang mengaharuskan kita berjumpa dan berbincang adalah sesuatu yang tak pernah kita rencanakan. Bagiku kau seperti cerminan masa lalu diriku yang kutemukan kembali. Tapi ah, sudahlah… Kita bekerja bukan? Dan karena itu kita bersama ada disini. ------ F. 032016 Mendengarmu berkisah, rasanya aku seperti bicara pada bayangan yang memantul dari sebuah cermin lama yang beranjak usang.  Dimana aku dapat melihat separuh diriku ada padamu Berusaha memahami pikiranmu, serasa memasuki jalan aksara yang siap berlompatan dari benakku. Banyak sudut pandang yang sama saat menilai sesuatu. Menerka hatimu seperti memahami rasaku.  Menilaimu sama seperti menyelam jauh kedalam hatiku sendiri. Membaca gerak laku mu pun harus ku padankan dengan apa yang ingin aku lakukan.  Karena setiap aku ingin sesuatu, tak lama kau melakukan itu... Menantimu bertindak, sama seperti membuka kosa kata dalam pemikir...

Senyap Layaknya Malam

Ternyata..  Dua tahun itu bukan waktu singkat untuk saya belajar banyak tentang hal baru bersama kamu. Tahun pertama kita belajar menyesuaikan diri satu sama lain dengan pekerjaan baru. Tahun kedua saya benar2 belajar mulai project itu dari awal. Kamu tahu? Saya belajar semua dari kamu. Sedikit demi sedikit, tahap demi tahap. Masalah demi masalah yang datang membuat saya belajar lebih banyak. Tak hanya secara profesional saya belajar banyak. Tetapi secara pribadi saya banyak belajar. Cara kamu menghadapi masalah, cara kamu menghadapi orang lain, cara kamu menyelesaikan masalah, semua... Tahun ini saya harus belajar sendiri. Saya kehilangan. Sangat kehilangan. Saya sempat berpikir bahwa saya salah terka perasaan. Sampai bu Novi menceritakan semuanya. Perlu kamu tahu, saya bingung harus jawab apa hari itu.. Kamu sudah ngga ada... Mungkin kalo kamu ada, saya langsung lari dan peluk kamu. Saya mau bilang.. Apa susahnya ngomong sama saya... We used to talk bout anything... Setah...

Keping-Keping Rasa

Saya pinjam nama kamu ya, untuk saya bicarakan dalam setiap sujud panjang saya dengan Yang Maha Kuasa. Saya tanyakan berkali-kali pada pemilik alam semesta ini tentang bagaimana seharusnya saya mengambil sikap. Kesibukan saya belakangan ini menyita perhatian dan waktu saya dari kamu, namun, saat saya sendiri. Kamu tetap menjadi pengisi utama dalam ruang ingatan saya. Kamu tak pernah ada dalam ruang kenangan, karena kamu selalu abadi dalam kotak ingatan saya. Kamu selalu menjadi alasan saya menangis dalam setiap sujud panjang didini hari saya. Kamu masih selalu menjadi pertanyaan yang saya ajukan kepada Sang Maha Penyayang. Saya masih juga tak menemukan jawaban harus seperti apa... Saya selalu bersiap kehilangan, Teman-teman kamu bilang, kamu pasti berubah, saya tahu itu.. Mereka bilang, kamu orang yang tak dapat dipercaya.. Apa saya percaya? Saya selalu bertanya pada hati, Jika memang saya tak dapat memberikan kepercayaan kepadamu, lalu mengapa setiap saya berdoa sela...

Ruang Kebingungan

Sejak obrolan dalam Whatsapp chat yang membuat saya merasa bahwa sepertinya saya lebih baik mundur saja dari hidup kamu. Saya merasa bimbang. Saya seperti ditarik-ulur.  Sejak awal saja saya kebingungan harus seperti apa. Ditambah kamu yang tidak pernah mengatakan ingin seperti apa. Beberapa orang terdekat saya mengatakan bahwa saya dimanfaatkan. Ya, begitu penilaian orang lain akan keadaan sekarang ini. Kedekatan kita, perasaan kamu, keberadaan saya, dimanfaatkan untuk urusan yang tidak menyangkut rasa. Saya berusaha mengabaikan hal itu, saya berusaha tidak menghiraukan pendapat itu. Tapi seperti yang mereka prediksi-- obrolan-obrolan berikutnya, murni semua mengenai pekerjaan dan bisnis... Saya ingat kalimat kamu dulu, April tahun ini, enam bulan yang lalu. Saya masih mengingat dengan jelas kamu mengatakan bahwa banyak yang harus kamu jaga perasaannya, keluargamu, pasanganmu (yang belakangan saya tahu, kamu bohong soal itu). Kamu seperti tidak ingin saya terlibat ja...

Menjadi Kontributor Bernas

Menulis adalah berlatih. Selama sebulan lebih sepuluh hari, tepatnya sejak 18 Oktober hingga 28 November 2017 ini, saya  menulis untuk Bernas.id. Yes, bernas, sebuah Koran yang berusia lebih dari usia saya sendiri. Koran bernas, adalah media yang tumbuh dan berkembang di Yogyakarta. Sampai dengan hari ini, tulisan saya yang tyang dimedia online bernas sebanyak 99 artikel. Biasanya saya menulis dengan tema lifestyle, pendidikan, sudut pandang dan mutiara iman. Mengapa akhirnya saya menulis artikel? Jawabannya simple, ada kesempatan yang datang, so, saya pikir why not? tidak ada salahnya mencoba bukan? Kesibukan saya bertambah, dari mengajar, memyiapkan materi hingga membuat artikel harian. Setiap hari, saya memilih menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis artikel disela-sela jam mengajar dan menangani permasalahan siswa di sekolah. Bagi saya, latihan menulis artikel di bernas akan menjadi modal saya mengembangkan kemampuan saya dalam dunia kepenulisan.

Labirin Hati

Minggu, 5 November 2017, Malam ini, saya menjawab pertanyaan yang belakangan ini berulang kali ditanyakan oleh keluarga kamu, “emang sekarang lagi deket sama siapa?” Yap, pertanyaan itu berulang kali ditanyakan kepada saya dalam waktu hamper sebulan kemarin… Kamu tahu? Ini jawaban saya, selengkapnya Wokeh...  Sekarang aku mau cerita.. Drmn yak mulainya.. Kalo ditanya lg dkt sama siapa. Aku bingung jawabnya. Aku temenan sama org, emang cuma temenan.  Dkt apa ngga..  Aku dan org2 disekitarku pasti jawabnya "iya, sempet deket"  Dia melibatkan aku dlm hidupnya sedikit demi sedikit.  Mulai dr menceritakan sedikiiit soal pekerjaan, keluarga, cita2, harapan dan mimpinya.  Dia juga melibatkan aku sama keluarganya sedikiiit demi sedikiiit (itu yang aku rasa dan org2 sekitarku liat) tp balik lg,  dia ngga pernah bilang reason-nya knp dia melakukan semua itu, jd aku cuma mikir "mungkin krn kita temenan". Apalagi waktu temen2nya bilang, dia hobi curhat ...

YANG TAK KAU TAHU

“Emang kamu lagi deket sama siapa sekarang?” Dinda membaca berulang kali pesan teks yang masuk lewat Whatsapp Messenger ponselnya. Menjawab pertanyaan tersebut sangat mudah, namun siapa yang mengajukan pertanyaan itulah yang membuatnya terus berpikir bagaimana cara menjawab kalimat yang tersebut dengan tepat. Bagi Dinda, pertanyaan dari Tiwi yang barusan masuk lumayan sensitif. Bagaimana tidak, Tiwi adalah sepupu terdekat Tofa, lelaki yang beberapa bukan kemarin sempat dekat dengannya walaupun tanpa status yang jelas. Dinda terus termangu, ingatan kejadian hampir setahun lalu berkelebat dalam benaknya. “Hhfftt....Tofa” gumamnya. Siapa pun yang melihat Dinda dan Tofa akan dapat melihat pancaran rasa sayang yang besar diantara keduanya. Dinda dan Tofa bekerja di tempat dan bidang yang sangat berbeda, Tofa adalah seniman sedangkan Dinda adalah seorang guru private di salah satu lembaga Bimbingan belajar ternama di kota kecil tempat tinggalnya. Keduanya bertemu d...

With Love

... F. 032016 Mendengarmu berkisah,  rasanya aku seperti bicara pada bayangan yang memantul dari sebuah cermin lama yang beranjak usang.  Dimana aku dapat melihat separuh diriku ada padamu Berusaha memahami pikiranmu, serasa memasuki jalan aksara yang siap berlompatan dari benakku. Banyak sudut pandang yang sama saat menilai sesuatu. Menerka hatimu seperti memahami rasaku.  Menilaimu sama seperti menyelam jauh kedalam hatiku sendiri. Membaca gerak laku mu pun harus ku padankan dengan apa yang ingin aku lakukan.  Karena setiap aku ingin sesuatu, tak lama kau melakukan itu... Menantimu bertindak, sama seperti membuka kosa kata dalam pemikiranku. Bagaimana tidak, setiap aku ingin menanyakan sesuatu,  tetiba kau hadir menjelaskannya tanpa kuucapkan tanya itu. -------- F. 082016 Tanpa kita sadari semua teramati. Sering kita tertawa dan hanya kita yang mengerti mengapa. Sering kita berbisik dan hanya kita yang mengerti... "chemistry" Enta...

Satu Doa Terlepas Lagi

Saya selalu percaya bahwa setiap doa pasti Allah kabulkan atau diganti dengan yang lebih baik. Bahkan setiap doa yang tidak sempat terucap dan hanya terlintas didalam hati. Hari ini misalnya.. Menyelesaikan satu artikel pendek untuk bernas.id membuat saya merasa bahwa ada satu lagi doa saya yang terkabul.  Walaupun saya belum tahu,  tulisan tersebut layak posting atau tidak. Tetapi bagi saya pribadi,  hal itu adalah capaian setelah banyak waktu saya berusaha mengalahkan rasa tidak percaya diri pada hasil tulisan saya sendiri. Akhir pekan lalu contoh lain, Ketika diumumkan tulisan saya termasuk tiga tulisan terbaik dalam pelatihan menulis online. Dulu sekali,  membaca adalah kebiasaan yang dibentuk oleh ibu terhadap saya.  Sejak kecil saya selalu dibawakan banyak sekali buku perpustakaan.  Menulis pun menjadi hal yang biasa saya lakukan, seperti yang sudah pernah saya tuliskan sebelumnya. Tetapi selama ini saya merasa tulisan saya tidak layak dibaca ora...

MENULIS UNTUK KATARSIS

Bagi saya menulis bukan sekedar hobi atau kebiasaan yang sudah saya lakukan sejak masih usia belasan. Bukan pula sebagai cara saya untuk mencurahkan isi hati berupa curhatan galau (karena udah bukan masanya juga). Menulis juga bukan hanya menjadi bagian dari kewajiban dalam pekerjaan, dengan menulis laporan kasus. Bukan pula hanya cerita. Menulis bagi saya adalah juga sebagai katarsis.   Apa itu katarsis?  Dalam metode psikologi (psikoterapi) katarsis adalah upaya menghilangkan beban mental seseorang dengan menghilangkan ingatan traumatisnya dengan membiarkannya menceritakan semuanya. Yesss.. For me writing also the way to release pain and solve the problem. Semakin matang usia pastinya semakin banyak yang saya pelajari dari kehidupan saya dan orang-orang disekitar saya. Semakin lama Allah memberikan kesempatan saya hidup,  semakin banyak masalah yang saya temui.  Entah dalam komunikasi dengan orang lain,  atau masalah...