“Emang kamu lagi deket sama siapa sekarang?” Dinda membaca berulang kali pesan teks yang masuk lewat Whatsapp Messenger ponselnya.
Menjawab pertanyaan tersebut sangat mudah, namun siapa yang mengajukan pertanyaan itulah yang membuatnya terus berpikir bagaimana cara menjawab kalimat yang tersebut dengan tepat. Bagi Dinda, pertanyaan dari Tiwi yang barusan masuk lumayan sensitif. Bagaimana tidak, Tiwi adalah sepupu terdekat Tofa, lelaki yang beberapa bukan kemarin sempat dekat dengannya walaupun tanpa status yang jelas.
Dinda terus termangu, ingatan kejadian hampir setahun lalu berkelebat dalam benaknya. “Hhfftt....Tofa” gumamnya.
Siapa pun yang melihat Dinda dan Tofa akan dapat melihat pancaran rasa sayang yang besar diantara keduanya. Dinda dan Tofa bekerja di tempat dan bidang yang sangat berbeda, Tofa adalah seniman sedangkan Dinda adalah seorang guru private di salah satu lembaga Bimbingan belajar ternama di kota kecil tempat tinggalnya. Keduanya bertemu dalam satu pekerjaan sosial dua tahun yang lalu. Karena terlibat dalam pekerjaan yang sama dalam kurun satu tahun, maka keduanya sering bertukar cerita dan akhirnya menjadi teman yang sangat dekat. Namun kedekatan mereka tidak pernah terucapkan dengan janji akan bersama. Segalanya mengalir begitu saja, hingga akhirnya Dinda merasa Tofa menjauh, beberapa bulan sebelum Tofa menerima tawaran dari temannya untuk menjadi duta budaya dengan berkeliling Asia.
Saat Dinda hendak beranjak pergi membawa kebingungan dan kesedihannya, Anita, salah satu sahabatnya menceritakan kepada Dinda bahwa Tofa datang kepada Anita untuk membicarakan tentang Dinda. Anita menceritakan bahwa Tofa sangat mencintai Dinda dan Tofa mengetahui bahwa Dinda pun demikian, namun Tofa ingin Dinda pun mengakui perasaannya. Tofa ingin Dinda menunggu hingga ia kembali. Tofa ingin menjauh untuk meyakinkan hatiya sendiri. Dinda menangis saat mendengar Anita bercerita dan memintanya menunggu Tofa. Satu kalimat yang Dinda ingat dari cerita Anita kepadanya “Tofa serius banget sama perasaannya. Perasaan dia dalam sekali. Kamu tunggu sampai dia kembali ya”
Tofa bukan laki-laki yang mudah mengungkapkan perasaannya, demikian juga Dinda. Keduanya selama ini saling memperhatikan dan memperlakukan dengan spesial satu dengan yang lainnya. Tofa sering sekali datang ke kantor Dinda dengan alasan ada pekerjaan yang ingin ia kerjakan dengan Dinda. Dan biasanya jika Tofa datang ke kantornya, Dinda sudah menyiapkan sarapan seperti yang diminta Tofa. Tofa selalu siap membantu Dinda setiap kali diminta.
Dinda masih terus melihat layar poselnya dan membaca berulang kali pesan yang sudah ia hapal. Pertanyaan Tiwi bukanlah yang pertama kali. Dinda mencoba menghitung sudah berapa kali Tiwi menanyakan pertanyaan serupa kepadanya dalam kurun waktu dua pekan terakhir ini. Sambil mengehela nafas dalam-dalam, Dinda bergumam pada dirinya sendiri, “tiga kali, aja pertanyaan deket sama siapa.” Sambil berpikir keras dibelakng meja kerjanya, Dinda mengetik kalimat pendek untuk Tiwi “Nanti deh aku ceritain ke kamu soal itu, aku kerja dulu ya”
Bukan perkara mudah bagi Dinda untuk menjelaskkan hubungannya dengan Tofa kepada siapa pun, terutama orang yang tidak melihat kedekatan mereka. Ditambah lagi, Tofa pernah mengatakan kepada Dinda, bahwa Tiwi sempat bertanya kepadanya sedekat apa Ia dan Dinda, jika hanya sebatas rekan kerja seharusnya tidak terlalu dekat. Sekarang, bagaimana menjelaskan kepada Tiwi tentang yang sebenarnya sedangkan Dinda sekarang tidak pernah lagi mendengar kabar Tofa. Hampir satu tahun Tofa pergi dan ia sama sekali tidak pernah menghubungi Dinda. Beberapa kali Dinda menangis jika ingat bagaimana mereka dulu. Namun kini apa yang dapat dilakukan? Ia ingin sekali menghubungi Tofa dan mengatakan kepadanya bahwa ia sudah mengetahui semuanya. Ia ingin sekali menyampaikan kepda Tofa bahwa ia sangat kehilangan. Namun kemana ia harus menghubungi Tofa? Kemana Dindan haru smencari laki-laki yang telah lama ia tangisi kepergiannya? Ia mencoba menghubungi Tofa melalui aplikasi chat atau email yang ia miliki, namun tak pernah ada respon. Sampai akhirnya Dinda memasrahkan saja rasa yang semakin hari semakin membuncah dalam dadanya. Ia simpan saja semua kenangan yang abadi dalam ingatannya.()
Komentar