Langsung ke konten utama

Profesional atau ikhlas?

Sebenarnya saya bingung mulai cerita dari mana.
Barusan aja saya ngobrol sama teman SMA lewat YM, tadinya sih cuma tanya kabar.. eh jadi panjang karena saling curhat pengalaman bekerja di satu lembaga yang katanya "profesianal"
selama ini kan banyak orang yang bilang "kalo kerja haru s profesional, harus ikhlas, ga  mikirin soal kebutuhan sendiri, ga usah mikir nanti dibayar berapa, dapet apa, udah yang penting kerjain aja yang diminta, harus seperti yang di suruh...

Sebetulnya apa sih profesional??
Kalo kata wikipedia profesional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya. Trus ikhlas tu apa? coba kita cari lagi ya.. kata dakwatuna  ada 3 ciri-ciri orang ikhlas..
Trus apa hubungannya profesional dengan ikhlas? kalo orang profesional ikhlas ga kerjanya? atau orang yang katanya ikhlas tu profesional ga??

Saya belom sempet cari lagi ni, data dan referensi mengenai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di atas. Tapi saya mau bagi sedikit ni cerita teman saya di YM tadi...
Katanya begini,
Saya ga nyangka aja, orang yang kelihatan dari luarnya sangat religius, selalu mendengung-dengungkan kebaikan, katanya selalu menjaga perilaku kok malah "nusuk dari belakang" katanya profesional kerjanya karena berdiri dgn nama agama, giliran aku minta kejelasan kerja yg profesional,eh malah dihambat..Istilahnya,mendingan gue gaul sm mereka2,yg benar2 respect qta,walaupun ga kenal nilai2 kebaikan dlm agama. Tapi justru mereka yg mengamalkan lbh baik.


Teman2,
saya ga tau apakah orang lain pernah mengalami hal yang serupa dengan teman saya itu, tapi sepertinya ada beberapa kali saya mendengar cerita seperti itu.
Pun saya pernah mengalami hal itu, dalam satu lembaga yang mengusung profesionalisme berbasic agama ternyata ga di dukung dengan SDM yang juga profesional dalam latar pendidikan, kemampuan mengelola management, problem solving, apalagi pembayaran salary.

Setiap kali saya bertanya mengenai profesionalisme lembaga mengenai hal-hal diatas selalu dijawab dengan kalimat " ya, namanya juga baru, bu jadi masih belajar.. lagipula kan harus nerima keadaannya gimana, kita kan kerja dan hidup harus ikhlas"
Tapi apakah para penentu kebijakan itu berpikir dan melihat kebawah, ketika mereka menjawab pertanyaan saya mengenai profesionalisme lembaga dengan jawaban yang mengandung ketidakpastian seperti itu, mereka seraca tidak sadar justru menyakiti banyak pihak, yang paling utama adalah stakeholder lembaga itu sendiri.

Bukankah, lembaga dibuat dengan landasan, tujuan, dan arah yang jelas?
Kalaupun pada awal berdiri lembaga belum memiliki bentuk, tentunya dalam perjalanan waktu yang tidak terlalu lama lembaga bisa belajar dan terus berbenah diri untuk lebih maju dan lebih cepat berkembang dengan menyerap lbanyak ilmu pengetahuan dari banyak media. sehingga tidak butuh waktu yang telalu lama untuk belajar dan melenting jauh ke atas meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama.
Yang saya amati, setiap kali ada "orang baru" yang membawa "oleh-oleh" dari luar lembaga  sellau dicurigai dan dikhawatirkan akan memberi dampak yang buruk pada "eksistensi budaya" yang telah dikembangkan dalam lembaga.

Nah lho... gawat kan??
Bukan kah ketika suatu lembaga menyatakan membuka diri untuk umum maka lembaga itu pun harus siap menerima masukan dari orang-orang yang datang dari luar? karena ada banyak sekali warna yang akan memperkaya warna lama yang telah sangat kental.

Memang, pencitraan akan lembaga selalu dibutuhkan untuk memberi kesan yang dalam bagi "orang-orang luar" tapi juga jangan terlena dengan pencitraan yang telah dibentuk, jangan-jangan citra yang kita bentuk malah dianggap aneh oleh orang kebanyakan, dan gawatnya lagi, citra yang dibuat itu ternyata salah baik dari sisi norma aturan lingkungan masyarakat atau bahkan kepercayaan yang kita anut.
Kalo pencitraan yang dibuat hanya melihat dari satu sisi dan harus mengikuti kemampuan sang pimpinan, apakah lembaga akan bisa menjadi profesional dimata orang-orang lain??

Satu hal lagi yang sedikit saya ketahui, Bukan kah Allah SWT tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak berusaha mengubah dirinya sendiri. Kan berubah itu berarti melalui proses mau kenal orang lain, mau belajar dari orang lain, mau melihat sisi kelemahan kita dan mengakui kelebihan orang lain??


Yuk, kita pikr sama2...
Dan hanya Allah SWT yang tahu jawaban yang hakiki dari segala sesuatu.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melayani Sepenuh Hati

Ada banyak sekali hal yang memengaruhi bagaimana guru BK atau konselor sekolah bertindak, dinilai dan memberikan layanan. Sikap pimpinan, pekerjaan mengurus administrasi, sikap rekan sejawat, pandangan yang kadang mengecilkan keberadaan guru BK di sekolah. Namun lepas dari semua hal yang mungkin tidak menyenangkan itu tetap harus diingat dan diperhatikan, yang dihadapi oleh seorang guru BK adalah manusia-manusia yang memiliki perasaan sama seperti dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan "perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan." Siswa yang datang ke sekolah berasal dari berbagai macam latar belakang, ketika pagi atau siang siswa datang mungkin ada yang masih ngantuk , belum sarapan, bete, habis diomelin, ngga dikasi uang jajan, dan banyak lagi alasan yang sering terjadi dan seringkali bagi orang yang tidak ada dalam posisi itu akan menjadi "alesan aja" sehingga sering ketika siswa datang ke sekolah guru akan marah, atau malah ikutan jadi bete, ...

Kenapa jagoan nangis?

Pagi2 tadi berusaha berangkat lebih pagi... Tapi kok sampai sekolah tetap jam 06.40 ya?? Padahal tadi pagi diantar oleh Valentino Rossita...hehehe.. Seharian ngobrol sama siswa tentang cita-cita, sekolah, bekerja dan masih buanyyaaaakkkk lagi.. seru kalo ngobrol sama mereka, selalu ada aja cerita tertawa.. Jam 13.45WIB diumumkan semua siswa SMA Bina Insani dipulangkan, dan semua siswa diminta menjadi supporter pertandingan futsal (Bina Insani VS Tridharma 2) dan hasilnya BI kalah 7-2 Bagiku ngga masalah, yang penting semua jagoan di lapangan futsal sudah berusaha maksimal. Toh dari semua yang ada di sekolah, menurutku mereka lah yang paling capek, paling tertekan, malu dan sebagainya. Tapi sore menjelang pulang ada seseorang yang matanya sembab dan menangis Ketika ditanya "kamu kenapa, jagoan???" bukan sang jagoan yang menjawab tapi temannya, katanya "gimana coba bu, kalo udah kalah malah dipojokkin enak ngga??" Duuuhhh, makin bingung... ada apa sebenar...

Nulis,

Nulis, Sejak kapan saya nulis? Kalo nulis diary sejak SD. Karena papa saya nyiapin diary yang isinya perjalanan hidup saya sejak lahir. Saya juga "dibuat suka baca" oleh mama saya. So, saya akrab dengan buku sejak saya belum dapat membaca secara lancar😅. Saking sukanya saya sama buku, saya pernah punya perpustakaan pribadi dan salah satu cita2 saya adalah punya taman bacaan. Tapi sekarang buku2nya banyak yang sudah saya sumbangkan ke bbrp taman bacaan dan perpustakaan. Lalu, sejak kapan saya suka nulis serius? Yes, setiap tulisan butuh keseriusan, ketelitian dan pengetahuan dalam. Karena sebelum menulis kita harus banyak membaca dan belajar. Saya mulai serius nulis sebetulnya sejak saya masih berprofesi sebagai staf humas di @mitranetra. Yang saya tulis yaaa seputar pekerjaan dan kegiatan bidang humas. Menulisnya pun hanya di blog. Saya semakin serius nulis sejak bergabung dalam Komunitas Menulis Online karena ada tugas dan target ...hehehe. Lalu, saya mendapat ...