Langsung ke konten utama

I'm Proud of Fajar!

Hari ini jadwal pagi saya seperti biasa, pagi ngajar Fajar baca, nulis... ya sebetulnya sih ga terlalu banyak belajar, tapi lebih kepada melatih Fajar mengasah kemampuannya membaca dan menulis.





Oiya, who's Fajar???
Fajar is one of my student. Menurut rekam medik dan hasil psikotest Fajar dinyatakan memiliki Dyslexia, yang kata wikipedia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. Dan Fajar disebut sebagai anak yang berkebutuhan khusus (special needs children). Padahal dalam konsep multiple intelligence ga ada anak yang dyslexia atau memiliki kekurangan, yang ada setiap anak pastinya memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda-beda.
Disekolah Fajar diperlakukan khusus, karena sejak awal masuk "katanya" kemampuan Fajar lebih rendah dari teman-temannya tapi karena satu dan lain hal Fajar masuk ke kelas reguler dengan materi ajar dan perlakuan yang sama dengan teman-teman sekelasnnya. Ketika naik ke kelas 2 Fajar diobservasi lagi oleh seorang psikolog dan dinyatakan bahwa Fajar perlu pendampingan dan "drill" khusus sehubungan dengan belum matangnya perkembangan dan belum tercapainya beberapa tugas perkembangan yang seharusnya sudah ia kuasai. Sejak itu,m mulailah Fajar dipisahkan dari kelas regulernya dan belajar bersama teman-teman "special needs-nya"
Mungkin tidak ada yang salah dalam konsep pendampingan dan aturan bahwa anak-anak yang kemampuannya dipandang lebih rendah belajar di luar kelasnya. Karena sekolah Fajar ingin anak berkembang secara menyeluruh. Hanya saja dalam kasus Fajar, ada hal-hal yang menurut saya agak dikesampingkan. Misalnya saja, Fajar, sudah terbiasa ada dalam kelas reguler dan belajar bersama teman-teman sebaya dengan materi yang tertentu. Memang ada "hal-hal yang belum dicapai Fajar" tetapi apakah dengan memisahkan Fajar dari kelompoknya dan digabungkan dengan kelompok baru yang katanya "memiliki karakteristik sama" akan meningkatkan kemampuan Fajar?  Juga ada beberapa pertanyaan lain yang menggelitik saya, seperti:
  1. Sudahkah pihak sekolah mengemukakan alasan yang reasonable pada orang tua Fajar?
  2. Bagaimana perasaan dan tanggapan orang tua Fajar?
  3. Bagaimana perasaan Fajar sendiri ketika dipisahkan dari teman-teman sekelasnya?
  4. Apakah tenaga pendamping Fajar adalah tenaga yang profesional dan kompeten dalam pelaksanaan program yang dirancang khusus untuk Fajar dan dapat mengembangkan kemampuan Fajar seperti yang diharapkan dan dibayangkan orang-orang lain?
  5. Apa saja kemajuan yang telah dicapai oleh Fajar setelah belajarnya "terpisah"?
Saya sendiri menangani Fajar secara khusus sejak pertengahan Januari 2011. Baru ya??
Sebelumnya Fajar adalah murid saya di sekolah, Yup! Saya guru kelas 2 Fajar di kelas regulernya. Pada saat Fajar di sekolah mungkin saya mengamatinya tidak sedalam sekarang karena --alasan klasik--banyak anak yang harus saya perhatikan..hehe. Tetapi sejak saya mengajar Fajar secara private tentunya interaksi saya dan Fajar jadi lebih intens. dan Subhanallah.....Banyak sekali kemajuan yang sangat cepat dan tidak saya kira dalam beberapa minggu belakangan ini.
Setelah saya intens belajar bersama Fajar, saya tentunya sering berbincang-bincang dengannya dan Fajar bilang "mau bisa baca" (ngenes ga si, denger anak bilang begitu.. duh, pengen nangis rasanya..)
Sejak menyatakan hal itu Fajar semangat sekali membaca.
Dia selalu bilang "bu, sekarang baca ya sam nulis, tapi jangan ngitung"
Semakin hari kemampuan Fajar membaca dan menulis semakin baik,
Jika pada awalnya Fajar belum dapat merangkai huruf, sekarang Fajar bahkan sudah dapat merangkai kata. Walaupun masih perlu bantuan Fajar sudah dapat membaca beberapa kalimat dengan merangkai sendiri huruf dan suku katanya...
Tulisan Fajar semakin rapi dan tertata. Fajar pun mulai terbiasa menulis sambil mengeja tulisannya sendiri, dan memeriksa hasil tulisannya dengan mengeja huruf-perhuruf.
Good Work, Boy...
Bu Indah really proud of  You!

Keinginan orang tua Fajar sebenarnya simple dan seperti pada umumnya orang tua Fajar dipandang dan diperlakukan "sama" dengan anak-anak yang lain. Terlepas dari keinginan mereka agar Fajar bisa membaca, menulis. Karena pada dasarnya mereka memahami keadaan anak mereka.
Sekali waktu orang tua Fajar pernah menyatakan pada saya bahwa ia sangat kecewa anaknya dikatakan tidak atau belum mampu mencapai tuntutan akademik yang ini dan yang itu. Mereka hanya ingin, apa yang menjadi kekurangan anaknya jangan lah dilihat sebagai sesuatu yang besar yang membuat anak mereka dipandang sebelah mata.
Orang tua Fajar juga pernah menyatakan dan menanyakan hal lain, seperti:
  1. Setelah dipisah dari kelas kemampuan Fajar cenderung menurun.
  2. Tidak mendapat laporan yang rinci dan kontinyu mengenai perkembangan Fajar.
  3. Apa yang sekarang dipelajari Fajar, kok laporannya cuma morning activity--perlu bantuan, main activity-perlu bantuan?
  4. Kegiatan Fajar di sekolah ngapain aja, kan saya udah bayar lebih mahal?
Mungkin yang perlu dikomunikasikan dengan pihak sekolah adalah,
  1. Ada laporan yang mendetil mengenai kegiatan Fajar di sekolah
  2. Jika Fajar perlu bantuan atau bimbingan, maka dituliskan apa jenis bantuan dan bimbingannya.
  3. Apa saja yang harus diperhatikan oleh orang tua mengenai pencapaian kemampuan Fajar secara afeksi, kognisi dan psikomotor.
  4. Menurut pihak sekolah apa batasannya bahwa Fajar sudah siap masuk kelas reguler lagi?
  5. Ataukah selama di sekolah tersebut Fajar akan terus dalam bimbingan khusus?
Tentunya perlu banyak pertimbangan dan pemikiran yang matang sebelum memutuskan sesuatu dan memperlakukan seseorang. Fajar yang sudah biasa ada di kelas tertentu mungkin  merasa dikesampingkan dengan kejadian-kejadian tersebut..
Wallahu'alam.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melayani Sepenuh Hati

Ada banyak sekali hal yang memengaruhi bagaimana guru BK atau konselor sekolah bertindak, dinilai dan memberikan layanan. Sikap pimpinan, pekerjaan mengurus administrasi, sikap rekan sejawat, pandangan yang kadang mengecilkan keberadaan guru BK di sekolah. Namun lepas dari semua hal yang mungkin tidak menyenangkan itu tetap harus diingat dan diperhatikan, yang dihadapi oleh seorang guru BK adalah manusia-manusia yang memiliki perasaan sama seperti dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan "perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan." Siswa yang datang ke sekolah berasal dari berbagai macam latar belakang, ketika pagi atau siang siswa datang mungkin ada yang masih ngantuk , belum sarapan, bete, habis diomelin, ngga dikasi uang jajan, dan banyak lagi alasan yang sering terjadi dan seringkali bagi orang yang tidak ada dalam posisi itu akan menjadi "alesan aja" sehingga sering ketika siswa datang ke sekolah guru akan marah, atau malah ikutan jadi bete, ...

Kenapa jagoan nangis?

Pagi2 tadi berusaha berangkat lebih pagi... Tapi kok sampai sekolah tetap jam 06.40 ya?? Padahal tadi pagi diantar oleh Valentino Rossita...hehehe.. Seharian ngobrol sama siswa tentang cita-cita, sekolah, bekerja dan masih buanyyaaaakkkk lagi.. seru kalo ngobrol sama mereka, selalu ada aja cerita tertawa.. Jam 13.45WIB diumumkan semua siswa SMA Bina Insani dipulangkan, dan semua siswa diminta menjadi supporter pertandingan futsal (Bina Insani VS Tridharma 2) dan hasilnya BI kalah 7-2 Bagiku ngga masalah, yang penting semua jagoan di lapangan futsal sudah berusaha maksimal. Toh dari semua yang ada di sekolah, menurutku mereka lah yang paling capek, paling tertekan, malu dan sebagainya. Tapi sore menjelang pulang ada seseorang yang matanya sembab dan menangis Ketika ditanya "kamu kenapa, jagoan???" bukan sang jagoan yang menjawab tapi temannya, katanya "gimana coba bu, kalo udah kalah malah dipojokkin enak ngga??" Duuuhhh, makin bingung... ada apa sebenar...

Nulis,

Nulis, Sejak kapan saya nulis? Kalo nulis diary sejak SD. Karena papa saya nyiapin diary yang isinya perjalanan hidup saya sejak lahir. Saya juga "dibuat suka baca" oleh mama saya. So, saya akrab dengan buku sejak saya belum dapat membaca secara lancar😅. Saking sukanya saya sama buku, saya pernah punya perpustakaan pribadi dan salah satu cita2 saya adalah punya taman bacaan. Tapi sekarang buku2nya banyak yang sudah saya sumbangkan ke bbrp taman bacaan dan perpustakaan. Lalu, sejak kapan saya suka nulis serius? Yes, setiap tulisan butuh keseriusan, ketelitian dan pengetahuan dalam. Karena sebelum menulis kita harus banyak membaca dan belajar. Saya mulai serius nulis sebetulnya sejak saya masih berprofesi sebagai staf humas di @mitranetra. Yang saya tulis yaaa seputar pekerjaan dan kegiatan bidang humas. Menulisnya pun hanya di blog. Saya semakin serius nulis sejak bergabung dalam Komunitas Menulis Online karena ada tugas dan target ...hehehe. Lalu, saya mendapat ...