Langsung ke konten utama

Kenapa remaja bersikap tidak sopan

Kemarin, beberapa siswa mengerumuni saya sesaat setelah saya memasuki kantin sekolah. Mereka menunjukkan tulisan di path yang dituliskan oleh adik kelas mereka.
Isinya ... "Mau jadi pengganti indah".
Awalnya saya hanya menanggapinya dengan tersenyum, namum mereka sedikit geram karena menurut mereka tulisan itu sangat tidak sopan.
"Ibu tuh harus marah, masa nulis nama guru ga pake bu atau apa lah gitu"

Disaat yang hampir bersamaan rekan saya menceritakan bahwa Ia juga pernah diledek oleh seorang siswa dan sampai dengan saat Ia bercerita siswa yang meledeknya todak pernah minta maaf.
Perihal sopan santun dan etika rasanya banyak mengalami pergeseran belakangan ini--at least that what I feel with my students-- sebagai contoh, siswa memanggil guru hanya nama, ada pula yang menggunakan kata-kata saat berbicara kepada guru layaknya seperti bicara kepada teman, ada pula yang terang-terangan meledek guru.
Jika ditanya apa alasan mereka melakukan hal tersebut jawabannya "woles bu" atau "ih baperan (bawa perasaan/ mudah tersinggung)

Dalam pengamatan saya, hubungan yang terlalu dekat antara guru dan siswa adalah salah satu pemicunya. Alasan lain adalah kebiasaan siswa dirumah selalu ditinggal oleh orang tua dan hanya ditemani pengasuh. Dititipkannya seorang anak kepada pengasuh berpengaruh pada perkembangan keterampilan berbicara dan kemmpuan anak mengembangkan norma dalam penerapan etika. Orang tua dan pengasuh anak memiliki pola asuh yang berbeda.
Sayangnya ketika anak sudah terbiasa dengan pengasuh, tentunya banyak nilai hidup dari keluarga--terutama orang tua--yang akan tergantikan oleh nilai hidup dari si pengasuh itu sendiri.
lebih jauh lagi, peran orang tua yang tidak lengkap dalam masa perkembangan anak, memungkinkan adanya tugas perkembangan yang tidak terselasaikan. Misalnya, untuk anak usia 1 tahun salah satu tugas perkembangannya adalah mengembangkan hati nurani. Tugas perkembangan ini menuntut orang tua mengajarkan kepada anaknya sejak dini tentang cara berempati, berkata sopan pada orang lain, belajar mendengarkan, menerima pendapat orang lain dan sebagainya.
Ketiadaan atau minimnya peran orang tua pada saat anak belajar mengembangkan hati nuraninya akan berimbas pada perilaku anak setelah Ia besar. menjadi kurang sopan, kurang empati dan sebagainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melayani Sepenuh Hati

Ada banyak sekali hal yang memengaruhi bagaimana guru BK atau konselor sekolah bertindak, dinilai dan memberikan layanan. Sikap pimpinan, pekerjaan mengurus administrasi, sikap rekan sejawat, pandangan yang kadang mengecilkan keberadaan guru BK di sekolah. Namun lepas dari semua hal yang mungkin tidak menyenangkan itu tetap harus diingat dan diperhatikan, yang dihadapi oleh seorang guru BK adalah manusia-manusia yang memiliki perasaan sama seperti dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan "perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan." Siswa yang datang ke sekolah berasal dari berbagai macam latar belakang, ketika pagi atau siang siswa datang mungkin ada yang masih ngantuk , belum sarapan, bete, habis diomelin, ngga dikasi uang jajan, dan banyak lagi alasan yang sering terjadi dan seringkali bagi orang yang tidak ada dalam posisi itu akan menjadi "alesan aja" sehingga sering ketika siswa datang ke sekolah guru akan marah, atau malah ikutan jadi bete, ...

Kenapa jagoan nangis?

Pagi2 tadi berusaha berangkat lebih pagi... Tapi kok sampai sekolah tetap jam 06.40 ya?? Padahal tadi pagi diantar oleh Valentino Rossita...hehehe.. Seharian ngobrol sama siswa tentang cita-cita, sekolah, bekerja dan masih buanyyaaaakkkk lagi.. seru kalo ngobrol sama mereka, selalu ada aja cerita tertawa.. Jam 13.45WIB diumumkan semua siswa SMA Bina Insani dipulangkan, dan semua siswa diminta menjadi supporter pertandingan futsal (Bina Insani VS Tridharma 2) dan hasilnya BI kalah 7-2 Bagiku ngga masalah, yang penting semua jagoan di lapangan futsal sudah berusaha maksimal. Toh dari semua yang ada di sekolah, menurutku mereka lah yang paling capek, paling tertekan, malu dan sebagainya. Tapi sore menjelang pulang ada seseorang yang matanya sembab dan menangis Ketika ditanya "kamu kenapa, jagoan???" bukan sang jagoan yang menjawab tapi temannya, katanya "gimana coba bu, kalo udah kalah malah dipojokkin enak ngga??" Duuuhhh, makin bingung... ada apa sebenar...

Nulis,

Nulis, Sejak kapan saya nulis? Kalo nulis diary sejak SD. Karena papa saya nyiapin diary yang isinya perjalanan hidup saya sejak lahir. Saya juga "dibuat suka baca" oleh mama saya. So, saya akrab dengan buku sejak saya belum dapat membaca secara lancar😅. Saking sukanya saya sama buku, saya pernah punya perpustakaan pribadi dan salah satu cita2 saya adalah punya taman bacaan. Tapi sekarang buku2nya banyak yang sudah saya sumbangkan ke bbrp taman bacaan dan perpustakaan. Lalu, sejak kapan saya suka nulis serius? Yes, setiap tulisan butuh keseriusan, ketelitian dan pengetahuan dalam. Karena sebelum menulis kita harus banyak membaca dan belajar. Saya mulai serius nulis sebetulnya sejak saya masih berprofesi sebagai staf humas di @mitranetra. Yang saya tulis yaaa seputar pekerjaan dan kegiatan bidang humas. Menulisnya pun hanya di blog. Saya semakin serius nulis sejak bergabung dalam Komunitas Menulis Online karena ada tugas dan target ...hehehe. Lalu, saya mendapat ...