"Coba deskripsikan keluargamu dalam satu kata," itu permintaan saya kepadanya dalam suatu pertemuan (sebut saja namanya Roni). "Hancur, bu" itu yang keluar dari mulutnya sambil menangis....
Kedua orang tua Roni berpisah saat Ia duduk di bangku kelas 3 SD. Sejak itu ibunya bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat Roni menginjak kelas 8 SMP sang ibu menikah untuk yang kedua kalinya, namun pernikahan kembali kandas.
Roni merasa setiap anggota keluarganya berjalan sendiri-sendiri, tanpa peduli apa masalah yang terjadi. Ia merasa hanya dirinya yang selalu menjadi tempat ibunya berkeluh kesah mengenai semua permasalahan yang ada dalam rumah tangganya.
Tak henti Ia menangis sambil bercerita dengan mata yang terlihat kosong seperti membayangkan semua kilasan permasalahan kedua orang tuanya. "Aku ngga dibolehin cerita soal keluarga sama siapa pun supaya aku ngga direndahin sama orang lain," begitu ungkapnya sambil terus menyeka air matanya dengan tisu yang saya berikan.
Setiap permasalahan dalam keluarga selalu menjadikan anak sebagai korban. Sering kali anak mengalah pada keputusan orang tua untuk berpisah atau menikah kembali. Jika ditanya bagaimana perasaan mereka jika salah satu dari orang tuanya menikah kembali setelah perceraian seringkali saya dapatkan jawaban "aku ngalah aja kalo emang itu yang bikin mama aku seneng, padahal aku nya sih ngga seneng.. ya mau gimana lagi kan, bu?"
Anak menyimpan luka yang dalam dari hilangnya figur salah satu orang tuanya. Ia mencari figur dari orang-orang terdekat, terutama keluarga besar--kakek, nenek, paman, bibi dan lainnya. Tetapi tetap saja figur berperan maksimal karena kurangnya ikatan emosional.
Banyak kasus yang muncul dari masalah perpisahan orang tua. Intinya hanya anak ingin diperhatikan dan didampingi melewati fase kehidupannya.
Kedua orang tua Roni berpisah saat Ia duduk di bangku kelas 3 SD. Sejak itu ibunya bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat Roni menginjak kelas 8 SMP sang ibu menikah untuk yang kedua kalinya, namun pernikahan kembali kandas.
Roni merasa setiap anggota keluarganya berjalan sendiri-sendiri, tanpa peduli apa masalah yang terjadi. Ia merasa hanya dirinya yang selalu menjadi tempat ibunya berkeluh kesah mengenai semua permasalahan yang ada dalam rumah tangganya.
Tak henti Ia menangis sambil bercerita dengan mata yang terlihat kosong seperti membayangkan semua kilasan permasalahan kedua orang tuanya. "Aku ngga dibolehin cerita soal keluarga sama siapa pun supaya aku ngga direndahin sama orang lain," begitu ungkapnya sambil terus menyeka air matanya dengan tisu yang saya berikan.
Setiap permasalahan dalam keluarga selalu menjadikan anak sebagai korban. Sering kali anak mengalah pada keputusan orang tua untuk berpisah atau menikah kembali. Jika ditanya bagaimana perasaan mereka jika salah satu dari orang tuanya menikah kembali setelah perceraian seringkali saya dapatkan jawaban "aku ngalah aja kalo emang itu yang bikin mama aku seneng, padahal aku nya sih ngga seneng.. ya mau gimana lagi kan, bu?"
Anak menyimpan luka yang dalam dari hilangnya figur salah satu orang tuanya. Ia mencari figur dari orang-orang terdekat, terutama keluarga besar--kakek, nenek, paman, bibi dan lainnya. Tetapi tetap saja figur berperan maksimal karena kurangnya ikatan emosional.
Banyak kasus yang muncul dari masalah perpisahan orang tua. Intinya hanya anak ingin diperhatikan dan didampingi melewati fase kehidupannya.
Komentar