Langsung ke konten utama

LDR

Menghabiskan malam minggu dengan gadis cantik yang satu ini membuatku berpikir lagi dan lagi tentang kepercayaan,  komitmen dan keyakinan.  Vida-- biasanya kami memanggilnya begitu. Kalimat yang paling sering Ia katakan padaku adalah "Bu, dia tuh keliatan banget tau sikapnya. Caranya ngeliat ibu tuh yaaammmpuuuunnn" atau "ibu tuh selalu mikirin perasaan orang,  tapi ngga mikirin perasaan sendiri" atau "Kalo dia nanya ibu akan jawab apa? " dan kalimat terakhir Ia katakan dari setiap obrolan kami adalah "ibu mau kan nunggu? Aku aja nunggu selama 4 tahun ngga papa"

Alfianto--baik,  ganteng,  sholih. A-good looking young man yang sudah memikat hatinya dan sempat menjadi pacarnya kuliah jauh di London.  Tidak berselang lama setelah Alfian kuliah di London hubungan Vida dan alfianto berakhir. Tak lama setelah hubungan mereka berakhir,  Alfian berpacaran dengan Carol.  Dan Vida berpacaran dengan Morello. Namun hubungan yang baru ini pun tidak bertahan lama. Hubungan Vida dengan Morello berakhir 2 hari sebelum usia tersebut genap setahun demikian juga Alfian.  Bedanya, setelah itu Alfian menjali hubungan dengan beberapa gadis lain sedangkan Vida memutuskan untuk sendiri.

Menceritakan keputusannya untuk mengakhiri hubungan mereka berdua dulu bukanlah hal mudah.  Mengisahkannya kembali membuat Vida kembali masuk kedalam pusaran cerita masa lalunya.
Menjadi pacar Alfian bukan hal yang Ia bayangkan. Vida sejak awal merasa dirinya tidak cukup pantas untuk mendampingi Alfian bahkan hanya untuk dekat dengan Alfian pun Vida merasa dirinya terlalu biasa. "Siapa sih bu yang ngga tau Alfian? Ganteng,  pinter,  baik,  agamanya bagus.  Sedangkan aku siapa?  Ngga punya prestasi,  ngga cantik,  ngga kaya.  Semua serba biasa. Waktu akhirnya aku jauh sama dia dan sama-sama sibuk aku merasa kayanya mendingan udahan aja.  Dia punya masa depan yang bagus,  dia layak buat dapet yang jauh lebih baik dari aku,  daripada aku menghambat dia mendingan yaudah..  Ngga papa aku kehilangan dia. Aku emang masih suka sama Alfian,  tapi ngga harus jadi pacarnya.  Aku takut nanti kehilangan lagi,  aku takut nanti nyakitin dia lagi.  Dia harus dapet yang lebih dari aku. Dan aku akan kaya gini aja.  Membiarkan diriku suka sama dia sampe rasa itu hilang dengan sendirinya" ujar Vida padaku sambil sesekali menyeka air matanya.

Bagi siapa pun bukan hal mudah menjalani Long Distance Relationship (LDR) . Apalagi bagi remaja usia SMA. Yang perlu dimiliki dua orang yang memutuskan untuk menjalani LDR adalah komitmen yang kuat dan kepercayaan ekstra.  Rasanya dua hal tersebut harus benar-benar menjadi pegangan karena biasanya saat LDR komunikasi tidak lancar seperti saat hubungan dijalin ketika jarak dua orang tersebut berdekatan. Kesibukan,  perubahan jadwal,  pertemanan baru,  kebiasaan baru dan perbedaan zona waktu menjadi penyebab utama komunikasi menjadi sedikit terhambat.  Perlu kiranya membuka kunci terhambatnya komunikasi dengan cara berusaha dapat dipercaya dan mempercayai, yakin pada komitmen yang telah dibuat,  dan yakin pada proses pembelajaran selama hubungan tersebut dibentangkan oleh jarak.

Komitmen buka semata-mata kata janji manis. Bukan sekedar kalimat "Since I really do love you, I'll never leave you" tapi komitmen adalah serangkaian perbuatan yang kita lakukan untuk terus mempertahankan hubungan tersebut. Sekali komitmen dibuat maka ada proses pembelajaran saling memahami segala hal yang terjadi dalam hubungan tersebut.  Termasuk perubahan-perubahan yang terjadi saat berjauhan. Termasuk perubahan sikap saat keduanya menghadapi kesibukan masing-masing.

Kepercayaan pun bukan sekedar saling mengirimkan kabar dan memasang foto pasangan,  memasang foto berdua dan yang sejenisnya. Tetapi kepercayaan berarti satu sama lain dapat menjaga hatinya. Sekali kepercayaan rusak,  maka ibarat benang yang putus, Ia tidak akan pernah tersambung mulus lagi. Bagaimana jika tidak ada kabar yang diterima?  Apakah kepercayaan otomatis langsung hilang? Beberapa mungkin akan menjawab iya,  sebagian lagi menjawab mungkin.  Tapi buatku jawabannya TIDAK. 
Yang perlu diingat oleh masing-masing pihak adalah,  think positive bisa menjadi pegangan. Think positive pengaruhnya sangat besar.  Kita akan tetap fokus dan bersemangat menjalani kehidupan kita sendiri. Sehingga kita tidak melulu memikirkan seseorang yang jauh. Bagi mereka yang berada diusia SMA,  fokus pada dirinya dan hidupnya sangat penting sebagai pijakan melangkah ke masa depannya.

Keyakinan pada apa yang dijalani, pada janji yang telah dibuat,  pada komunikasi yang dijalin dan yang paling utama yakin pada takdir yang telah Allah gariskan tentunya menjadi pegangan paling kuat dalam LDR ini.
Bukankah hidup hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lainnya?  Belajar dari setiap kejadian yang kita alami? Menyesuaikan dengan keadaan yang kita ada didalamnya dan terlibat dengan orang-orang yang datang dan pergi?  Sebagian dari mereka akan pergi,  sebagian lagi tinggal dan sebagian kecil akan menetap dalam hidup dan hati kita.
Saat dua orang menjalani LDR mungkin Allah mengajarkan mereka lebih percaya,  lebih yakin dan lebih memegang teguh komitmen. Allah ingin mereka fokus pada hidup masing-masing dulu sampai pada akhirnya nanti Allah pertemukan kembali.  Kalau pun dalam perjalanan hubungan jarak jauh keduanya bertemu orang lain dan memutuskan berpisah,  tentunya Allah telah mengajarkan untuk tidak terlalu terlarut dalam sedih.

Bukankah hubungan yang dijalin ditempat yang sama atau dijarak yang berdekatan juga belum dapat dipastikan akan langgeng?  Semua komitmen, kepercayaan dan keyakinan adalah hal yang juga penting.  Tetapi terlepas dari jarak yang dekat atau jauh.  Allah pasti telah buatkan jalan takdir terbaik untuk kita dan yang perlu kita lakukan hanya terus berusaha memperbaiki diri.  Serahkan segala urusan masa depan kepada Sang Pembuat takdir--Allah SWT. Hanya saja kita sering tidak sabar dan merasa bahwa segala hal dalam hidup kita adalah kita yang mengatur.  Padahal jelas sekali bahwa semesta ini semua tunduk pada aturan yang telah Allah buat.

Belajar saja dari wanita yang paling dicintai Rasulullah--Khadijah ra.,  yang menyimpan doa-doa terbaiknya dan membiarkan Allah memilihkan Rasulullah menjadi yang terbaik untuknya. Teladani juga Fatimah Azzahra. yang menyimpan Ali ra. dalam doanya hingga Allah menunjukkan yang terbaik bagi keduanya.
Jadi libatkan selalu Allah dalah setiap asa yang kita miliki.  Istikharah lah untuk melibatkan Allah dalam setiap kegalauan yang terasa.  Libatkan Allah dalam setiap keputusan yang kita buat.  Fokus pada apa yang ada dihadapan.  Biar Allah pilihkan yang terbaik dengan caranya dan pertemukan dengan versinya disaat yang terbaik.  In syaa Allah ()

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melayani Sepenuh Hati

Ada banyak sekali hal yang memengaruhi bagaimana guru BK atau konselor sekolah bertindak, dinilai dan memberikan layanan. Sikap pimpinan, pekerjaan mengurus administrasi, sikap rekan sejawat, pandangan yang kadang mengecilkan keberadaan guru BK di sekolah. Namun lepas dari semua hal yang mungkin tidak menyenangkan itu tetap harus diingat dan diperhatikan, yang dihadapi oleh seorang guru BK adalah manusia-manusia yang memiliki perasaan sama seperti dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan "perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan." Siswa yang datang ke sekolah berasal dari berbagai macam latar belakang, ketika pagi atau siang siswa datang mungkin ada yang masih ngantuk , belum sarapan, bete, habis diomelin, ngga dikasi uang jajan, dan banyak lagi alasan yang sering terjadi dan seringkali bagi orang yang tidak ada dalam posisi itu akan menjadi "alesan aja" sehingga sering ketika siswa datang ke sekolah guru akan marah, atau malah ikutan jadi bete, ...

Kenapa jagoan nangis?

Pagi2 tadi berusaha berangkat lebih pagi... Tapi kok sampai sekolah tetap jam 06.40 ya?? Padahal tadi pagi diantar oleh Valentino Rossita...hehehe.. Seharian ngobrol sama siswa tentang cita-cita, sekolah, bekerja dan masih buanyyaaaakkkk lagi.. seru kalo ngobrol sama mereka, selalu ada aja cerita tertawa.. Jam 13.45WIB diumumkan semua siswa SMA Bina Insani dipulangkan, dan semua siswa diminta menjadi supporter pertandingan futsal (Bina Insani VS Tridharma 2) dan hasilnya BI kalah 7-2 Bagiku ngga masalah, yang penting semua jagoan di lapangan futsal sudah berusaha maksimal. Toh dari semua yang ada di sekolah, menurutku mereka lah yang paling capek, paling tertekan, malu dan sebagainya. Tapi sore menjelang pulang ada seseorang yang matanya sembab dan menangis Ketika ditanya "kamu kenapa, jagoan???" bukan sang jagoan yang menjawab tapi temannya, katanya "gimana coba bu, kalo udah kalah malah dipojokkin enak ngga??" Duuuhhh, makin bingung... ada apa sebenar...

Nulis,

Nulis, Sejak kapan saya nulis? Kalo nulis diary sejak SD. Karena papa saya nyiapin diary yang isinya perjalanan hidup saya sejak lahir. Saya juga "dibuat suka baca" oleh mama saya. So, saya akrab dengan buku sejak saya belum dapat membaca secara lancar😅. Saking sukanya saya sama buku, saya pernah punya perpustakaan pribadi dan salah satu cita2 saya adalah punya taman bacaan. Tapi sekarang buku2nya banyak yang sudah saya sumbangkan ke bbrp taman bacaan dan perpustakaan. Lalu, sejak kapan saya suka nulis serius? Yes, setiap tulisan butuh keseriusan, ketelitian dan pengetahuan dalam. Karena sebelum menulis kita harus banyak membaca dan belajar. Saya mulai serius nulis sebetulnya sejak saya masih berprofesi sebagai staf humas di @mitranetra. Yang saya tulis yaaa seputar pekerjaan dan kegiatan bidang humas. Menulisnya pun hanya di blog. Saya semakin serius nulis sejak bergabung dalam Komunitas Menulis Online karena ada tugas dan target ...hehehe. Lalu, saya mendapat ...