#flashback
Kira-kira 6 bulan yang lalu saya dikejutkan oleh pesan yang masuk dalam grup whatsapp teman-teman di kantor. Seorang teman mengirim tulisan ke dalam chat room yang berbunyi:
"Klo ga tau, jgn sok tau dech loe. Jgn suka ngomongin orang (ghibah). Dosa tau. Klo gue ada salah. Ngomong aja langsung. Gue bkn siapa2. Pengecut loe."
Yang membuat saya terkejut karena teman yang menulis kalimat seperti itu bukan seorang pengumpat atau pemarah. Juga bukan orang yang meledak-ledak. Saya bisa memahami kemarahannya, namun saya tidak memahami pemicu kemarahannya.
Tidak lama setelah itu, teman lain menjelaskan dalam chat room pribadi kejadian yang kemungkinan memicu kemarahan tersebut.
Di kantor saya memang ada seorang teman yang "mulutnya usil" jika boleh menyontek istilah yang digunakan oleh teman-teman saya di kantor.
Perasaan selalu benar, merasa senior, dekat dengan pimpinan, punya gank yang selalu mendukung, dan merasa tidak pernah salah (ini hanya penegasan kalimat yang pertama ya..hehehhe) membuat teman saya yang sering disebut "tongsis" ini merasa kalo setiap orang mungkin suka dengan celetukannya atau minimal suka dengan lelucon yang sering Ia lontarkan.
Mengamati keseharian di kantor, teman-teman saya secara umum sangat tidak menyukai "ibu tongsis" ini. Saya pernah survey kecil-kecilan mengenai alasan mengapa teman-teman tidak menyukai beliau, jawaban mayoritas teman saya "semua omongannya nyakitin orang sih, siapa yang mau deket sama orang model begitu"
Saya jadi sering berkaca diri, saya gimana ya? jangan sampe saya kaya gitu. Sejak masuk ke kantor saya yang sekarang, saya selalu berhati-hati jika bicara (salah satunya sama beliau..hihihi) bukan apa-apa.. saya hanya belajar untuk memperbaiki diri dan jangan sampai menyakiti orang lain dengan lisan saya.
Sering saya dengar nasehat dari salah satu radio dakwah isinya kira-kira "bicaralah yang baik maka engkau akan beruntung, atau diam dari yang buruk maka engkau akan selamat"
Jangan sampai karena lisan kita dibenci atau ditakuti orang lain.
Dalam pemahaman saya yang dangkal, ditakuti bukan berarti orang segan kepada kita, tetapi saya menangkap.. jangan sampai karena lisan kita yang sering berbicara tidak baik, semakin banyak orang yang menjauhi kita dan tidak mau berteman dengan kita. Orang akan merasa tidak aman berbicara kepada kita karena akan menjadi bahan gunjingan atau minimal bahan sindiran. Astagfirullah...
Semoga saya bisa belajar banyak dari kejadian ini....
Komentar